Kamis, 05 Januari 2012

Keselamatan dalam pandangan Al-Qur'an dan Alkitab
 
Umat Kristiani sangat yakin bahwa agama Kristen dengan Alkitab dan Yesus, adalah untuk seluruh dunia, seluruh alam semesta. Keyakinan mereka tersebut berdasarkan beberapa ayat dalam Alkitab, yaitu pada Injil Matius pasal 28 ayat 19 dan Injil Markus pasal 16 ayat 15 yang bunyinya sebagai berikut :
“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” (Mat 28 : 19)
Berdasarkan ayat tersebut mereka yakin bahwa Yesus memerintahkan kepada murid-muridnya untuk menjadikan semua bangsa agar dibaptis menjadi pengikutnya, alias harus dikristenkan.
Kemudian berdasarkan Injil Markus pasal 16 ay
at 15 tertulis pesan Yesus sebagai berikut:
“Lalu ia berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, berikanlah Injil kepada segala makhluk.” (Mar 16 : 15)
Pesan-pesan Yesus pada ayat-ayat tersebut oleh umat Kristiani itu dianggap pesan suci. Kenapa? Sebab menurut Alkitab, ketika Yesus meninggalkan pesan seperti itu, pada saat itu dia diangkat ke langit.
Oleh sebab itu bagi umat Kristiani itu adalah pesan Yesus yang terakhir ketika dia berada di bumi. Makanya pesan Yesus tersebut disebut “Amanat Agung” Yesis Kristus. Disamping itu terdapat begitu banyak ayat-ayat di dalam Alkitab yang membuat mereka begitu yakin bahwa hanya agamanya saja (Kristen) yang menyelamatkan. Sebagai contoh kami angkat beberapa ayat yang menjadi andalan atau rujukan mereka sebagai berikut :
“Kata Yesus kepadanya : “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14 : 6)
Ayat ini merupakan “ayat  emas” yang sangat dibanggakan oleh setiap umat Kristen. Bayangkan saja tidak ada seorangpun yang akan selamat kalau tidak melalui Yesus. Artinya jika mau selamat, maka jalan satu-saunya harus menjadi pengikut Yesus alias harus masuk agama Kristen. Kalau begitu berdasarkan ayat tersebut, maka kesimpulannya keselamatan itu hanya ada dalam Yesus. Pertanyaannya : bagaimana dengan umat Islam, apakah ada keselamatan pada mereka? Jika tidak ada keselamatan di dalam Islam, bagaimana nasib umat Islam di seluruh dunia?
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga ia telah mengaruniakan Anak-Nya  yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3 : 16)
Ayat ini pun merupakan ayat emaas. Intinya kehidupan kekal itu hanya bisa diperoleh apabila kita percaya bahwa kematian Yesus di kayu salib itu adalah dalam rangka menebus dosa-dosa manusia, karena itu merupakan kasih karunia Allah melalui Anak-Nya yaitu Yesus, yang mati di kayu salib dalam rangka menebuhs dosa-dosa manusia. Pertanyaannya: bagaiamana dengan umat Islam yang tidak percaya Yesus mati di kayu salib dan tidak percaya kematian Yesus dalam rangka untuk menebus dosan? Apakah kaum muslimin tidak akan memperoleh kehidupan kekal itu?
“Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kisah Para Rasul 4 : 12)
Ayat ini adalah tulisan Lukas. Intinya yaitu mengingatkan kepada kita manusia bahwa keselamatan itu tidak ada di dalam nama siapapun melainkan hanya ada di dalam nama Yesus.
Oleh sebab itu, menurut iman umat Kristen, hanya di dalam nama Yesus saja adanya keselamatan itu, tidak kepada lainnya. Pertanyaannya : Jika di bawah kolong langit ini keselamatan itu hanya ada dalam nama Yesus berarti di dalam nama Nabi Muhammad saw. tidak ada keselamatan. Kalau begitu bagaimana nasib umat Islam di dunia ini? Apakah mereka tidak akan selamat karena memilih menjadi pengikut Nabi Muhammad, bukan pengikut Yesus?
“Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.” (Roma 10 : 9)
Ayat ini adalah surat kiriman Paulus kepada jemaat di Roma. Intinya yaitu, kalau kita mengaku dengan mulut dan percaya dalam hati bahwa Yesus adalah Tuhan yang dibangkitkan Allah dari antara orang mati, maka kita akan diselamatkan. Ayat ini memberikan iming-iming yang sangat mudah yaitu hanya percaya Yesus adalah Tuhan, maka akan diselamatkan.
Pertanyaannya : bagaimana dengan naisb kaum muslimin yang semuanya tidak percaya Yesus sebagai Tuhan, paakah mereka tidak akan diselamatkan?

Keselamatan dalam pandangan Al-Qur'an
 
Umat Islam berkeyakinan bahwa Nabi Muhammad saw. adalah nabi yang terakhir dan beliau adalah penutup para nabi dan Al Qur’an adalah kitab suci yang terakhir, serta agama Islam adalah agama yang diridhoi oleh Allah Swt. dan agama yang telah disempurnakan-Nya. Dasarnya adalah sebagai berikut :
Nabi Muhammad penutup para Nabi
 
مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا
40. Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu[1223]., tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.  (Qs 33 Al Ahzaab 40)

Nabi Muhammad diutus untuk menjadi rahmat semesta alam
“Dan tidaklah Kami mengutusmu (Muhammad) melainkan rahmat bagi semesta alam.”
Nabi Muhammad, Al Qur’an dan agama Islam dimenangkan oleh Allah Swt.
“Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci.”
Islam agama yang sah disisi Allah
 
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
19. Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab[189] kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. (Qs 3 Ali Imran 19)
Tidak ada keselamatan selain dalam Islam
 
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
85. Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (Qs 3 Ali Imran 85)
 
أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ
83. Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.  (Qs 3 Ali Imran 83)
 
Islam agama yang sempurna dan diridhoi
 
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِالأزْلامِ ذَلِكُمْ فِسْقٌ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لإثْمٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(Qs 5 Al-Maidah 3)

Al Qur’an adalah kitab suci yang sempurna
 
وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلا لا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
115. Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merobah robah kalimat-kalimat-Nya dan Dia lah yang Maha Mendenyar lagi Maha Mengetahui.  (Qs 6 Al An'aam 115)

Berdasarkan ayat-ayat Al Qur’an, keselamatan itu hanyalah ada di dalam Islam, dalam Qur’an atau harus menjadi pengikut Nabi Muhammad. Tetapi berdasarkan ayat-ayat Alkitab (Bible), ternyata keselamatan itu hanyalah ada dalam nama Yesus. Pertanyaannya: Mungkinkah dua-duanya benar? Kalau dua-duanya benar, pasti mustahil. Mungkinkah dua-duanya salah? Tidak mungkin! Benar, pasti salah satu, tetapi yang mana? Jawabannya silahkan baca pada bab-bab berikutnya.



[1223]. Maksudnya: Nabi Muhammad s.a.w. bukanlah ayah dari salah seorang sahabat, karena itu janda Zaid dapat dikawini oleh Rasulullah s.a.w.
[189]. Maksudnya ialah Kitab-Kitab yang diturunkan sebelum Al Quran.


-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------



Syarat-syarat Kitab Dikatakan Suci

  • Harus benar-benar bersumber dari Allah Swt.
  • Allah yang mewahyukan harus bersifat Maha atas segala sesuatu
  • Harus mempertahankan bahasa aslinya ketika nabi itu menerima wahyu-Nya
  • Penerima wahyu harus jelas orangnya, benar-benar jujur & berakhlak mulia
  • Tidak mengajarkan ajaran yang kejam dan sadis
  • Memberikan pelajaran dan menunjuki manusia kepada jalan yang benar
  • Ayat-ayatnya tidak boleh bertentangan satu sama lainnya
  • Berbicara tentang ilmu pengetahuan harus bisa dibuktikan
  • Harus sesuai dengan fitrah manusia
  • Kitab tersebut harus bisa memberikan kesaksian bahwa dia diwahyukan oleh Allah Swt.
  • Tidak boleh melecehkan terhadap nabi-nabi Allah
  • Tidak membeberkan cara merayu wanita dan pornografi secara vulgar
  • Harus ada perkataan dari Allah bahwa tidak ada Tuhan yang wajib disembah selain diri-Nya (Qs 20 : 14, 21 : 25)
  • Harus ada nama agama yang berasal dari Tuhannya, bukan dari manusia atau panggilan orang (Qs 3 : 19, Qs 3 : 85, 5: 3)
  • Terjaganya seluruh wahyu itu dengan hafalan para pemeluknya dari awal diwahyukan sampai kiamat.
  • Dan lain-lain.

Itulah syarat-ayarat pokok yang harus dipenuhi oleh sebuah kitab yang bisa disebut Firman Tuhan atau kitab suci.

1. HARUS BENAR-BENAR BERSUMBER DARI ALLAH SWT.

Kitab suci agama Kristen yang bernama Bible, yang dalam bahasa Indonesia umatnya menyebut Alkitab bersumber dari :
 
1. Wahyu / Firman Allah
2. Sabda para Nabi Allah
3. Dari Penulis Alkitab / Bible / Injil
4. Dari orang-orang yang dikenal maupun tidak dikenal

Sedangkan kandungan Alkitab :
 
1. Perintah dan larangan Allah
2. Perintah dan larangan dari Nabi-Nya
3. Ajaran dari penulis kitab tersebut
4. Cerita-cerita sejarah
5. Cerita tahayul dan khurafat
6. Surat-surat percintaan
7. Cerita pornografi dan lain-lain

Jika kita baca Alkitab dengan seksama, ternyata kandungannya adalah 100% kitab Ilahi, dan sekaligus 100% kitab insani, artinya bercampur antara wahyu dan bukan.
Kalau kita teliti membaca Alkitab, kemudian kita pilah-pilah antara firman Allah dan yang bukan, maka akan jelas sekali terlihat Alkitab sebagian besar bukan wahyu Allah.
Ayat-ayat di bawah ini dapat dibedakan mana yang dari Allah, NabiNya, dari penulis Alkitab, dari orang yang dikenal maupun tidak dikenal.
Wahyu Allah :
Lagi firman Allah kepada Abraham :
“Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan keturunanmu turun-temurun.inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat…” (Kejadian 17 : 9 – 10)
Dari penulis Alkitab : Dan ketika genap delapan hari & Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yangj disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya (Lukas 2 : 21)
Dari Nabi-Nya : Jawab Yesus: “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” (Matius 15 : 24)
Dari orang yang dikenal maupun tidak dikenal : Teofilus yang mulia, Banyak orang kita, seperti yang disamaikan kepada kita telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman. (Lukas 1 : 1-3)

Perhatikan dan bedakan lagi contoh ayat-ayat seperti di bawah ini, maka akan terlihat jelas, mana yang wahyu Allah, mana yang dari nabi-Nya, yang dari penulis Alkitab, maupun yang dari orang yang dikenal maupun tidak.
Wahyu Allah : Akulah Tuhan dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah. Aku telah mempersenjatai engkau, sekalipun engkau  tidak mengenal Aku, supaya orang tahu dari terbitnya matahari sampai terbenamnya, bahwa tidak ada yang lain di luar Aku. Akulah Tuhan dan tidak ada yang lain, (Yesaya 45 : 5/6)
Dari Nabi-Nya : Jawab Yesus : “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. “ (Markus 12 : 29)
Dari orang yang dikenal maupun tidak : Lalu kata ahli Taurat itu berkata kepada Yesus : “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia Esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. (Markus 12 : 23)
Dari penulis Alkitab : Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.” (Lukas / Kis 2 : 36)
Sangat berbeda jauh dengan Al Qur’an, sebab kitab suci umat Islam ini terpisah antara ucapan dan perbuatan nabi-Nya.
Dalam Islam, semua wahyu atau firman Allah dibukukan dalam satu kitab yaitu Al Qur’an. Semua ucapan, tindakan, perbuatan dan aturan yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. dibukukan dalam satu kitab tersendiri yaitu kitab Hadits. Dan sejarah perjalanan hidup beliau juga dibukukan dalam kitab yang lain lagi, yaitu kitab Sirah Nabawiyah. Jadi jelas tidak bercampur, sehingga siapapun bisa menilai perbedaannya antara kitab suci Al Qur’an dan Alkitab (Bible).
Di dalam kitab suci agama Kristen (Alkitab) semuanya bercampurh menyatu di dalamnya, sehingga sulit dibedakan mana yang benar-benar wahyu atau firman Allah, mana yang ucapan rasul atau nabi-Nya, mana ucapan atau pendapat penulis Alkitab itu sendiri, mana cerita-cerita sejarah, mana yang hanya cerita atau informasi dari orang-orang yang dikenal maupun yang tidak dikenal dan lain-lain. Semuanya menyatu dan tidak dipisahkan.

Sumber Al Qur’an dari Allah Swt.
Al Qur’an, kitab suci umat Islam berasal dari Allah. Sebagaimana pernyataan dan tantangannya bagi siapa yang meragukan kebenarannya:

أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلافًا كَثِيرًا
82. Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.  (Qs 4 An Nisa’ 82)
 
Ayat di atas memberikan pengertian bahwa Al Qur’anitu benar-benar berasal dari Allah Swt, bukan dari lainnya. Buktinya tidak didapati ayat-ayat yang bertentangan di dalam Al Qur’an. Kalau ada orang yang mengatakan ada yang bertentangan dalam Al Qur’an, itu bukan pertentangan, tapi pemahamannya yang belum sampai kesitu.

وَمَا كَانَ هَذَا الْقُرْآنُ أَنْ يُفْتَرَى مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ الْكِتَابِ لا رَيْبَ فِيهِ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ
37. Tidaklah mungkin Al Quran ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al Quran itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya[691], tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam. (Qs 10 Yunus 37)
 
Pada ayat tersebut 2 (dua) kali Allah berikan kesaksian bahwa yang mengadakan Al Qur’an adalah Dia sendiri. Jadi jelaslah bahwa Al Qur’an itu sendiri bisa memberikan kesaksian bahwa dia benar-benar berasal dari Allah Swt, bukan dari lainnya.
Ayat seperti ini tidak kita jumpai didalam Alkitab / Bible setebal itu.


[[691]. Maksudnya Al Quran itu menjelaskan secara terperinci hukum-hukum yang telah disebutkan dalam Al Quran itu

 
2. TUHAN YANG MEWAHYUKAN HARUS BERSIFAT MAHA ATAS SEGALANYA

Mari kita simak dengan cermat ayat kitab umat Kristen yang tertulis dalam Kejadian 6 : 5 – 7 berikut ini :
“Ketika dilihat Tuhan, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, maka menyesallah Tuhan, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya. Berfirmanlah Tuhan : ”Aku akan mengapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka.”
Ayat di atas ini sebenarnya kalau umat Kristen sedikit serius dan jeli, itu sangat melecehkan terhadap kemahakuasaan Allah. Ayat tersebut sangat jelas menunjukkan kekeliruan dan ketidak mahakuasaan Allah itu sendiri.
Penulis Alkitab menceritakan rencana awal ketika Tuhan menciptakan manusia, dimana Tuhan bermaksud semua manusia hidup tanpa dosa, tanpa cela, tanpa masalah.
Tetapi setelah makhluk yang bernama manusia itu tercipta, dalam perjalanan kehidupan manusia itu sendiri, hasilnya tidak seperti yang Dia inginkan.
Ternyata manusia ciptaan-Nya itu cenderung membuahkan kejahatan semata, maka menyesalah Tuhan bahwa Dia telah menjadikan manusia di bumi ini. Saking rasa menyesal begitu berat, maka membuat hati Tuhan pilu. Maka untuk menghapus manusia dari kejahatan yang mereka buat, didatangkan-Nya air bah untuk melenyapkan semua manusia saat itu, kecuali Nabi Nuh beserta keluarganya dan orang-orang yang beriman kepadanya.
Sungguh ironis sekali jika Tuhan ditempatkan oleh penulis Alkitab sebagai perancang atau pencipta yang keliru. Tentu hal ini akan membuat setan dan kawan-kawannya bangga atas kekeliruan Tuhan. Setan-setan tentu menertawakan Tuhan bahkan meledek Dia, karena setan-setan merasa menang dalam menggoda manusia ciptaan Tuhan sehingga mereka tergelincir dalam dosa dan kejahatan. Dan dalam cerita tersebut, dilukiskan penyesalan Tuhan yang begitu mendalam hingga hati-nya sangat pilu karena kegagalan yang dibuat oleh Tuhan sendiri.
Satu hal lain yang perlu kita catat, bahwa jika nanti di akhirat kita akan dilemparkan oleh Tuhan ke dalam api neraka, manusia berhak memprotes terhadap keputusan Tuhan yang akan menghukum kita. Kenapa? Sebab terciptanya kita manusia di muka bumi ini, semuanya bukan atas kehendak kita sendiri, tetapi atas kehendak-Nya.
Dialah Allah yang telah menjadikan dan menciptakan kita, tanpa diminta oleh kita bukan? Maka jika kita manusia akan disiksa di api neraka, itu suatu keputusan Tuhan yang keliru, sebab semua kesalahan tidak boleh ditimpakan kepada kita manusia, karena yang bersalah justru Tuhan itu sendiri.
Buktinya Tuhan mengaku dengan jujur dan polos bahwa Dia keliru telah menjadikan manusia yang ternyata cenderung berbuat kejahatan di muka bumi. Bagaimana mungkin kesalahan Tuhan ditiumpakan kepada manusia!
Oleh sebab itu kalau perlu di akhirat nanti kita adakan demo secara besar-besaran menentang keputusan Tuhan, karena Dia telah melanggar Hak Asasi Manusian (HAM) bukan?
Semua ini membuktikan bahwa si penulis Alkitab tidak profesional, karena menempatkan Tuhan pada posisi yang lemah.
Justru dengan adanya ayat-ayat seperti itu, membuat para pembaca Alkitab yang serius dan kritis, akan memberikan penilaian yang salah terhadap isi Alkitab, apalagi menyangkut ketidak mahakuasaan Tuhan itu sendiri. Halinitentu merupakan pelecehan terhadap Tuhan, sekaligus membuktikan bahwa Alkitab tidak semuanya berisi wahyu atau firman Allah, tetapi banyak yang berasal dari tulisan manusia.

Tuhan Tidak Tahu??
Silahkan baca Kejadian 18 : 20 – 21
20. Sesudah itu berfirmanlah Tuhan : “Sesungguhnya banyak keluh kesah orang tentang Sodom dan Gomora dan sesungguhnya sangat berat dosanya. 21. Baiklah Aku turun untuk melihat, apakah benar-benar mereka telah berkelakuan seperti keluah kesah orang yang telah sampai kepada-Ku atau tidak; Aku hendak mengetahuinya.”
Menurut penulis Alkitab, di kala dosa dan kebejatan yang begitu besar telah terjadi di kota Sodom dan Gomorah, malaikat Tuhan melaporkan kejahatan mereka kepada Tuhan. Untuk mengetahui apakah laporan malaikat tersebut benar atau tidak, maka Tuhan harus turun ke dunia untuk mengetahuinya.
Dilukiskan oleh penulis Alkitab bahwa Tuhan perluh turun ke bumi untuk membuktikan laporan malaikat yang sampai kepada-Nya. Penulis Alkitab init idak menyadari bahwa ayat-ayat tersebut justru benar-benar sangat merendahkan kemahakuasaan Tuhan.
Kalau laporan kasus Sodom dan Gomorah saja lantas Tuhan harus turun ke dunia untuk mengetahuibnya, bagaimana dengan laporan malaikat di jaman sekarang, dimana jumlah manusia sudah begitu banyaknya (sekitar 6 milyar) dan kejahatan sangat sulith dhitung jumlahnya? Kalau semata itu harus dicek kembali satu persatu kebenarannya oleh Tuhan dengan turun ke dunia ini, kapan urusan Tuhan akan selesai? Kalau begitu diana letak kemahakuasaan Tuhan itu sendiri?
Jika ayat tersebut benar-benar wahyu Allah, berarti Allah di dalam Alkitab tersebut tidak memiliki sifat Maha atas segala sesuatu, dan Dia bersiat lemah seperti makhluk makhluk ciptaan-Nya. Tapi itulah kenyataannya dan demikianlah apa yang harus diimani oleh umat Kristiani karena mereka merasa yakinn bahwa Alkitab adalah 100% wahyu Allah yang tidak mungkin bisa salah atau keliru, walaupun bertentangan dengan hati nurani mereka.
Kenyataan bahwa Tuhan benar-benar turun ke bumi untuk mengetahui laporan malaikat kepada-Nya, tertulis jelas di dalam Alkitab dimana Abraham datang mendekat dan berdiri di hadapan Tuhan, hingga terjadilah dialog antara Tuhan dan Abraham sebagai berikut :
Abraham : “Apakah Engkau akan melenyapkan orang benar Bersama-sama dengan orang fasik? Bagaimana sekiranya ada lima puluh orang benar dalam kota itu? Apakah engkau akan melenyapkan tempat itu dan tidakkah Engkau mengampuninya karena kelima puluh orang benar di dalamnya itu? Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian dari pada-Mu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?” (Kej 18: 23 – 25)
Tuhan : “Jika Kudapati lima puluh orang benar dalam kota Sodom, Aku akan mengampuni seluruh tempat itu karena mereka.” (Kej 18 : 26)
Abraham: “Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan, walaupun aku debu dan abu, sekiranya kurang lima orang dari kelima puluh orang benar itu, apakah Engkau akan memusnahkan seluruh kota itu karena yang lima itu?” (Kej 18 : 27 – 28)
Tuhan : “Aku tidak memusnahkannya, jika Kudapati empat puluh lima disana.” (Kej 18 : 28)
Abraham :”Sekiranya empat puluh lima didapati disana?” (Kej 18: 29)
Tuhan : “Aku tidak akan berbuat demikian karena yang empat puluh lima itu.” (Kej 18 : 29)
Abraham: “Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata sekali lagi. Sekiranya tiga puluh didapati disana?” (Kej 18 : 30)
Tuhan : “Aku tidak akan berbuat demikian, jika Kudapati tiga puluh disana.” (Kej 18 : 30)
Abraham : “Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan. Sekiranya dua puluh didapati disana?” (Kej 18 : 31)
Tuhan : “Aku tidak akan memusnahkannya karena yang dua puluh itu.” (Kej 18 : 30)
Abraham : “Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata lagi sekali ini saja. Sekiranya sepuluh didapati disana?” (Kej 18 : 32)
Yang menarik dari ayat-ayat Alkitab tersebut terlihat sepertinya Abraham main-main dengan Tuhan. Dan yang lebih tidak rasional yaitu Tuhan koq dinasehati oleh Abraham. Bagaimana mungkin manusia bisa menasehati Tuhan? Mestinya Tuhanlah yang menasehati manusia, bukan sebaliknya!

Tuhan Berpikir
Bacalah Kejadian 18 : 17
“Berpikir Tuhan : “Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini?”
Kalau untuk mengatakan kepada seorang saja (nabi Abraham) lantas Tuhan berpikir dulu, bagaimana di zamanh sekarang yang sudah semakin modern dan canggih, apalagi jumlah manusia telah mencapai sekitar lebih kurang 6 (enam) milyar.
Berbagai masalah, kejadian, problematika, dan kasus yang terjadi di dunia yang semakin tidak kruan ini, kalau semuanya itu harus dipikirkan oleh Tuhan, bisa dibayangkan, bagaimana sibuk dan pusingnya Tuhan dalam mengatasi manusia di dalam semesta ini.
Maaf, kalau kualitas ilmu pengetahuan Tuhan yang ada di dalam Alkitab hanya seperti itu, bisa-bisa Tuhan stress, mungkin bisa gila! Na’udzubillahi min dzaalik!
Tuhan tidak mungkin punya sifat lemah yang digambarkan oleh penulis Alkitab pada ayat-ayat tersebut.
Kalau ayat-ayat itu diyakini sebagai firman Allah, ini berarti Tuhan di dalam Alkitab tersebut tidak memppunyai sifat Maha atas segala sesuatu, bahkan Dia sama seperti makhluk ciptaannya.
Karenanya bagaimana mungkin kita manusia harus menjadikan Dia sebagai satu-satunya yang mutlak serta berbakti dan menyembah hanya kepada-Nya, dan yang menentukan keselamatan semua umat manusia, sementara Dia sendiri tidak punya sifat Maha atas segalanya?
Sekarang marilah kita lihat dan membandingkan bagaimana Tuhan (Allah) yang ada di dalam kitab suci Al Qur’an, apakah Dia bersifat Maha atas segala sesuatu atau tidak! Perhatikan ayat-ayat sebagai berikut:
 
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الأرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الأمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا
12. Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu. (Qs 65 Ath Thalaq 12)

Subhanallah!! Dari satu ayat ini saja jelas sekali terlihat betapa luar biasa ilmu Allah dalam Al Qur’an. Betapa Maha Kuasanya Dia terhadap segala sesuatu. Dan betapa ilmu-Nya tidak terbatas meliputi segalanya.
 
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلا يَعْلَمُهَا وَلا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأرْضِ وَلا رَطْبٍ وَلا يَابِسٍ إِلا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
59. Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)" (Qs Al An’am 59)

Subhanallaah!!! Dari ayat Al Qur’anj tersbeut, jelas sekali kita melihat suatu perbedaan yang sangat menyolok antara Alkitab (Bible) dengan Al Qur’an.
Ayat-ayat Bible tadi terlihat betapa Allah ilmu-Nya sangat terbatas, sehingga Dia harus keliru, menyesal, tidak tahu, berpikir dan lain-lain. Sementara Allah dalam Al Qur’an pada ayat-ayat tadi dijelaskan bahwa Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu dan ilmu-Nya tidak terbatas. Bahkan segala kunci yang ghaib semuanya diketahui-Nya.
Nah, Allah inilah yang pantas kita sembah, kita jadikan satu-satu tumpuan hidup, tempat kita memohon pertolonan, karena Dia-lah yang berkuasa atas segala sesuatu dan Dia punya sifat Maha atas segalanya



3. HARUS MEMPERTAHANKAN BAHASA ASLI KETIKA NABI  MENERIMA WAHYU


Al Qur’an sejak diturunkan pertama kali kepada Rasulullah Muhammad saw. sampai sekarang, bahkan sampai kiamat, tetap mempertahankan bahasa aslinya yaitu bahasa Arab.
Coba perhatikan ayat-ayat AL Qur’an sebagai berikut :
الر تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْمُبِينِ
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ 
1. Alif, laam, raa. Ini adalah ayat-ayat Kitab (Al Quran) yang nyata (dari Allah). 2. Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya. (Qs 12 (Yusuf) 1- 2)
Perhatikan juga ayat berikut ini:
 
إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
3. Sesungguhnya Kami menjadikan Al Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya). (Qs 43 Az Zukhruf 3)
Apda kedua ayat tersebut Allah sendiri yangn memberikan kesaksian bahwa Al Qur’an itu Dia yang turunkan dalam bahasa Arab. Dan terbukti sejak dahulu sampai sekarang bahkan sampai hari kiamat, Al Qur’an akan tetap mempertahankan bahasa Arab sebagai aslinya.
Al Qur’an walaupun sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia, tetapi tetap didampingi dengan konteks bahasa aslinya yaitu bahasa Arab. Hal ini bisa kita buktikan, kemanapun kita kelilingi negara yang ada di dunia, pasti Al Qur’an akan kita jumpai didampingi dengan bahasa Arab.
Berbeda dengan Alkitab (Bible), bahasa aslinya yaitu bahasa Ibrani sudah tidak ada lagi. Kalau bahasa aslinya yaitu bahasa Ibrani benar-benar ada, mengapa tidak dicopi dan diperbanyak?
Kepintaran manusia di jaman sekarang sudah sangat luar biasa, bahkan manusia sudah sampaike bulan. Dengan teknologi yang begitu canggih, apa sulitnya memperbanyak Alkitab berbahasa aslinya kalau memang ada?

Bagaimana Dengan Alkitab?
Ternyata kitab suci umat Kristiani yaitu Alkitab (Bible) tidak mempertahankan bahasa aslinya, sebab bahasa aslinya yaitu bahasa Ibrani sudah tidak ada lagi. Pernyataan bahwa Alkitab berbahasa asli sudah tidak ada lagi, itu bukan pendapat atau perkiraanh kami, tetapi ditulis oleh penulis Alkitab dengan jelas di dalam Alkitab itu sendiri. Perhatikan bunyi mukadimah Injil Matius sebagai berikut :
“Menurut tradisi (yang tidak sepenuhnya terjamin kebenarannya) Injil pertama ditulis oleh rasul Matius. Ia juga bernama Lewi (mrk 2 : 14 dan Luk 5 : 27). Menurut tradisi yang tua sekali, Matius menulis Injilnya dalam bahasa “Ibrani” artinya bahasa Aram yang menjadi bahasa rakyat di Palestina. Tetapi Injil asli itu (kalau pernah ada) segerah diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani. Injil dalam bahasa Ibrani itu tidak ada lagi.”
Bunyi pernyataan dalam mukadimah Injil Matius tersebut, kami kutip dalam In jil terbitan LBI tahun 1975 Percetakan Arnoldus Ende.
Rasanya mukadimah pada Injil Matius tersebut, terlalu berani dan polos. Baru memulai tulisannya dalam mukadimah Injil Matius, penulis Alkitab sudah mengatakan “yang tidak semuanya terjamin kebenarannya.” Nah kalau kebenaran injil Matius tersebut tidak semuanya dijamin kebenarannya, bagaimana kita harus mempercayainya sebagai 100% firman Tuhan? Ini berarti bahwa di dalam Injil Matius itu sendiri, tidak semuanya benar-benar terjamin kebenarannya.
Kemudian masih dalam mukadimah Injil Matius tersebut, penulis Alkitab ungkapan dengan jujur sebagai berikut : “Injil asli itu kalau pernah ada”, ini menunjukkan bahwa Injil asli itu memang sudah tidak ada lagi. Sebab katanya kalau ada, segera diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani.
Hal ini lebih memperkuat bahwa memang benar bahwa Injil asli berbahasa Ibrani itu benar-benar sudah tidak ada lagi. Tetapi kata-kata pembukaan (mukadimah) dalam Injil Matius tersebut, tidak lagi dijumpai pada Alkitab cetakan sekarang ini, karena tidak dimuat lagi. 



4. PENERIMA WAHYU HARUS JELAS, JUJUR DAN BERAKHLAK MULIA

Alkitab yang dipakai oleh umat Kritstiani dewasa ini, tidak mencantumkan nama-nama penulisnya. Jika kita lihat dalam Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan terbitan Gandum Mas Malang cet. I tahun 1994 dan ke 2 tahun 1996 yang dicetak Lembaga Alkitab Indonesia, disitu tertulis jelas nama-nama penulis Alkitab, tahun berapa ditulis dan lain-lain. Kami kutip apa adanya sebagai berikut :

PERJANJIAN LAMA
No.
Nama Kitab
Penulis
Tahun
1
Kejadian
Musa   
1445 – 1405 SM
2
Keluaran
Musa
1445 – 1405 SM
3
Imamat
Musa
1445 – 1405 SM
4
Bilangan
Musa
1405 SM
5
Ulangan
Musa
1405 SM
6
Yosua
Yosua
Abad 14 SM
7
Hakim
?????
1050 – 1000 SM
8
Ruth
?????
Abad ke 10 SM
9
1 Samuel
?????
Ahir abad 10 SM
10
2 Samuel
?????
Ahir abad 10 SM
11
1 Raja-Raja
?????
560 – 550 SM
12
2 Raja-Raja
?????
560 – 550 SM
13
1 Tawarikh
Ezra / ?
450 – 420 SM
14
2 Tawarikh 
Ezra / ?
450 – 420 SM
15
Ezra
Ezra
450 – 420 SM
16
Nehemia
Ezra / Nehemia ?
430 – 420 SM
17
Ester
?????
460 – 400 SM
18
Ayub
?????
?????
19
Mazmur
Daud + ?
Abad 10 – 5 SM
20
Amsal
Salomo + ?
70 – 700 SM
21
Pengkotbah
Salomo ?
935 SM
22
Kidung 2
Salomo ?
960 SM
23
Yesaya
Yesaya
700 – 680 SM
24
Yeremia
Yeremia
586 – 585 SM
25
Ratapan
Yeremia
586 – 585 SM
26
Yehezkiel
Yehezkiel
590 – 570 SM
27
Daniel
Daniel ?
536 – 530 SM
28
Hosea
Hosea
835 – 850 SM
29
Yoel


30
Amos
Amos 
760 – 755 SM
31
Obaja
Obaja
840 SM
32
Yunus
Yunus 
760 SM
33
Mikha
Mikha 
740 – 710 SM
34
Nahum
Nahum
630 – 620 SM
35
Habakuk
Habakuk
606 SM
36
Zefanya
Zefanya
630 SM
37
Hagai
Hagai
520 SM
38
Zakharia
Zakharia 
520 – 470 SM
39
Maleakhi
Maleakhi ?
430 – 420 SM

Perhatikan, semua yang diberi tanda tanya (?). Dari 39 Kitab Perjanjian Lama tersebut, kalau dihitung, terdapat sekitar 9 Kitab yang tertulis “tidak diketahui siapa penulisnya” dan ada 4 Kitab lagi yang sebagian tidak jelas sumbernya. Jadi ada sekitar 13 Kitab dari 39 Kitab Perjanjian Lama versi Katolik yang tidak diakui oleh pihak Protestan dan disebut sebagai kitab Apokripa, yang dalam bahasa Yunani artinya “tersembunyi”, yaitu kitab-kitab tertentu dalam Perjanjian Lama yang tidak dibenarkan untuk bacaan umum di gereja, tai dianggap berharga untuk studi pribadi dan nilai rohani. Inilah nama 9 Kitab Perjanjian Lama versi Katolik yang tidak terdapat dalam Kitab Perjanjian Lama versi Protestan :

40 Tobit - To
41 Yudit - Ydt
42 Tambahan Ester - T. Est
43 Kebijaksanaan Salomo - Keb
44 Yesush bin Sirakh - Sir
45 Barukh & Surat Nehemia - Bar
46 Tambahan Daniel - T.Dan
47 Makabe 1 - 1 Mak
48 Makabe 2 - 2 Mak

Dengan adanya tambahan 9 (sembilan) Kitab pada Perjanjian Lama versi Katolik ini, maka jumlah Kitab Perjanjian Lama versi Katolik ada 47 (empat puluh tujuh) kitab, sementara versi Protestan hanya ada 39 (tiga puluh sembilan) kitab.
Timbul pertanyaan sebagai berikut :
Pertama : Manakah yang benar jumlahnya 47 Kitab Perjanjian Lama versi Katolik atau 39 Kitab Perjanjian Lama versi Protestan?
Kedua : Mengapa sudah ribuan tahun tidak diketahui siapa penulis kitab-kitab yang diberi tanda tanya tersebut?
Ketiga : Kalau Roh Kudus bisa dimintakan bantuannya, sudah ribuan tahun, kenapa tidak minta bantuan Roh Kudus untuk menunjukkan siapa nama-naa penulis kitab-kitab yang tidak diketahui penulisnya itu?
Keempat : Bagaimana kita mengimani kebenjaran suatu kitab suci jika sumbernya atau penulisnya tidak jelas, bahkan tidak diketahui?
Sekarang bagaimana dengan Perjanjian Baru? Perhatikan nama-nama Kitab dan Surat dalam Perjanjian Baru berikut ini, sehingga para pembaca bisa membedakan mana firman Tuhna, sabda nabi, dongeng, atau karya penulis Injil itu sendiri yang katanya mendapatkan inspirasi dari Roh Kudus:


PERJANJIAN BARU
No
Nama Kitab
Penulis
Tahun
1
Injil Matius
Matius
60-an M
2
Injil Markus
Markus
55 – 65 M
3
Injil Lukas
Lukas
60 – 63 M
4
Injil Yohanes
Yohanes
80 – 95 M
5
Kisah Rasul
Lukas ?
63 M
6
Roma
Paulus ?
57 M
7
1 Korintus
Paulus
55 – 56 M
8
2 Korintus
Paulus 
55 – 56 M
9
Galatia 
Paulus ?
49 M
10
Efesus
Paulus ?
62 M
11
Filipi
Paulus ?
62 - 63 M
12
Kolose
Paulus ?
62 M
13
1 Tesalonika
Paulus ?
51 M
14
2 Tesalonika
Paulus ?
51 – 52 M
15
1 Timotius
Paulus ?
65 M
16
2 Timotius
Paulus ?
67 M
17
Titus
Paulus ?
65 – 66 M
18
Filemon
Paulus ?
62 M
19
Ibrani
????? 
67- 69 ? M
20
Yakobus
Yakobus
45 – 49 M
21
1 Petrus
Petrus
60 – 63 M
22
2 Petrus
Petrus
66 – 68 M
23
1 Yohanes
Yohanes
85 – 95 M
24
2 Yohanes
Yohanes
85 – 95 M
25
3 Yohanes
Yohanes
85 – 95 M
26
yudas
Yudas
70 – 80 M
27
Wahyu
Yohanes
90 – 96 M


Dari 27 (dua puluh tujuh) kitab Perjanjian Baru tersebut, yang diberi tanda tanya (???) adalah Kitab Ibrani. Tertulis dengan jelas dalam Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan penerbit Gandum Mas yang dicetak oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) tahun 1994 dan 1996, disitu dijelaskan bahwa kitab tersebut tidak diketahui siapa penulisnya dan tidak diketahui kepada siapa kitab tersebut dialamatkan. Pada abad ke 5 Masehi, tersebar sebagian pendapat bahwa itu adalah tulisan Paulus, tapi sebagian yang berpandangan konservatif berpendapat tidak mungkin kalau Paulus yang menulis surat tersebut, karena gaya bahasa yang halus bkan merupakan gayanya Paulus.
Kemudian kalau kita teliti dan dalami Alkitab, ternyata sebagian besar penulis Injil, mereka bukan murid Yesus. Injil itu ada 4 (empat) yaitu Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes.
Sebagian besar umat Kristen yakin bahwa penilis keempat Injil tersebut mereka adalah murid-murid Yesus. Ternyata Markus dan Lukas tidak terdaftar dari ke 12 murid Yesus. Matius yang terdaftar dalam Injil sebagai murid Yesus, sebenarnya bukan murid Yesus, itu juga diragukan apakah dia benar muridnya. Coba perhatikan daftar murid-murid Yesus pada kolom / tabel di bawah ini sebagai berikut :

Mar 3 : 16 – 19
Luk 6 : 13 – 16
Mat 10 : 2 – 4
Simon Petrus
Simon Petrus
Simon Petrus
Andreas
Andreas
Andreas
Yakobus anak Zebedeus
Yakobus anak Zebedeus
Yakobus anak Zebedeus
Yohanes sdr Yakobus
Yohanes
Yohanes sdr Yakobus
Philipus
Philipus
Philipus
Bartolomeus
Bartolomeus
Bartolomeus
Matius
Matius
Matius
Thomas
Thomas
Thomas
Yakobus anak Alfeus
Yakobus
Simon  orang Zelot
Tadeus
Tadeus
Tadeus
Yudas
Yudas
Yudas

Dari keempat penulis Injil pada tabel tersbeut sama sekali tidak terdaftar nama Markus dan Lukas. Ini membuktikan bahwa penulis Injil Markus dan Lukas bukan muridnya Yesus. Yang ada hanyalah nama Matius dan Yohanes.
Tetapi apakah nama Matius tersebut adalah benar-benar muridnya Yesus yang menulis Injil Matius? Coba simak ayat Matius 9 : 9 – 10 berikut ini :
“Setelah Yesus pergi dari situ, ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu ia berkata kepadanya : “Ikutlah Aku.” Maka berdirilah Matius lalu mengikuti Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-muridNya”
Ayat ini membuktikan bahwa Matius penulis Injil bukanlah murid Yesus. Yang benar-benar menjadi  murid Yesus adalah Matius pemungut cukai yang diajak langsung oleh Yesus untuk mengikutinya.
Kalau benar penulis Injil Matius itu adalah murid Yesus, maka kata-kata pada ayat tersebut bunyinya sebagai berikut :
“Setelah Yesus pergi dari situ, ia melihat aku duduk di rumah cukai, lalu ia berkata kepadaku : “Ikutlah Aku.” Maka berdirilah aku lalu mengikuti Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumahku, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-muridNya” (Matius 9 : 9 – 10)
Kesimpulannya yaitu penulis Injil Matius bukanlah murid Yesus, tetapi kebetulan sama-sama bernama Matius.
Sekarang bagaimana dengan penulis Injil Yohanes? Apakah dia benar-benar termasuk murid Yesus juga? Bersama ini kami kutip mukadimah Injil Yohanes dalam Kitab Perjanjian Baru tahun 1983 dari percetakan Arnoldus Ende yang teksnya diambil dari Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) tahun 1975 berikut ini:
“Tradisi hampir sepakat menyebut Yohanes pengarang Injil keempat. Ia adalah anak Zabedeus, dan nelayan. Menurut tradisi Injil itu ditulis bagi orang-orang Kristen di kawasan Asia Kecil. Waktu itu Yohanes telah menjadi pengikut Yohanes Pembaptis. Ia secara khusus dikasihi Yesus (kalau memang murid itu benar-benar Yohanes penulis Injil). Yohanes menulis Injilnya waktu sudah lanjut usia sekitar tahun 90 M.”
Berdasarkan mukadimah (pembukaan) Injil Yohanes tersbeut, yaitu tertulis dalam kurung (“Kalau memang murid itu benar-benar Yohanes penulis Injil”), membuktikan bahwa penulis Injil Yohanes ini masih diragukan apakah dia itu benar-benar murid Yesus atau bukan.
Kemudian sebagian penulis ayat-ayath yang termuat dalam Perjanjian Baru tersebut dulunya seorangh musuh Yesus, penjahat, pembunuh dan berlatar belakang buruk yaitu Paulus. Perhatikan kutipan pengakuan Paulus sendiri dalam berbagai surat-suratnya sebagai berikut :
“Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa?” (Roma 3 : 7)
“Tetapi Paulus berusaha membinasakan jemaat itu dan ia memasuki rumah demi rumah dan menyeret laki-laki dan perempuan keuar dan menyerahkan mereka untuk dimasukkan ke dalam penjara” (Kisah Para Rasul 8 : 3)
“Jawab Anasias: “Tuhan, dari banyak orang telah kudengar tentang orang itu, betapa banyak kejahatan yang dilakukannya terhadap orang-orang kudus-Mu di Yerussalem.” (Kisah Para Rasul 9 : 13)
“Dan aku telah menganiaya pengikut-pengikut Jalan Tuhan sampai mereka mati, laki-laki dan perempuan kutangkaph dan kuserahkan ke dalam penjara.” (Kisah Para Rasul 22 : 4)
“Aku yang tadinya seornag penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman.” (1 Timotius 1 : 13)
“Sebab kamu telah mendengar tentang hidupku dahulu dalam agama Yahudi : tanpa batas  aku menganiaya jemaat Allah dan berusaha membinasakannya.” (Galatia 1 : 13)
“Hal itu kulakukan juga di Yerussalem. Aku bukan saja telah memasukkan banyak orang kudus ke dalam penjara, setelah aku memperoleh kuasa dari imam-imam kepala, tetapi aku juga setuju, jika mereka dihukum mati.” (Kisah Para Rasul 26 : 10)

Paulus bagaikan Bunglon
Cermatilah ayat-ayat pada 1 Korintus 9 : 20 – 23 berikut ini:
20. Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi roang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat. 21. Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat kau menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun kau tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat. 22. Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelematkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenagkan beberapa orang dari antara mereka. 23. Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya.”
Semua ayat-ayat Alkitab tersbeut adalah pengakuan Paulus sendiri. Orang yang berlatar belakang buruk seperti dia, bagaimana mungkin dijadikan panutan?

Pertanyaannya : ”Siapakah  yang menjadi panutan, Yesus atau Paulus?”


5. TIDAK MENGAJARKAN YANG KEJAM DAN SADIS

Marilah kita baca Alkitab I Samuel 15 : 2 – 3 yang berbunyi sebagai berikut :
2. Beginilah firman Tuhan semesta alam : Aku akan membalas apa yang dilakukan orang Amalek kepada orang Israel, karena orang Amalek menghalangi mereka, ketika orang Israel pergidari Mesir. 3. Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai.”
Kalau kita cermati ayat tersebut, betapa kejam dan sadisnya Tuhan yang digambarkan dalam Alkitab tersbeut. Kalau benar Tuhan mengajarkan ajaran kasih, mengapa justru Tuhan menyuruh membunuh tanpa belas kasihan? Dimanakah ajaran kasih yang selama ini selalu digembar-gemborkan, sementara Tuhan sendiri yang memerintahkan untuk menumpas tanpa belas kasihan terhadap perempuan, anak-anak, dan bahkan terhadap anak yang menyusu?
Tuhan menulis sepuluh perintah Allah (Ten Comandments) di dalam Alkitab, diantaranya yaitu “jangan membunuh” (Ulangan 5 : 17), tetapi mengapa Dia sendiri yang menyuruh dan memerintahkan untuk membunuh dengan kejam dan sadis bahkan tanpa belas kasihan? Bukankah ini merupakan ayat-ayat teroris? Hanya para teroris yang melakukan seperti itu! Kalau begitu darimana asal mula ,sumber ajaran teroris tersebut?
Selanjutnya marilah kita baca Ulangan 20 : 12 – 16 sebagai berikut:
12. Tetapi apabila kota itu tidak mau berdamai dengan engkau, melainkan mengadakan pertempuran melawan engkau, maka haruslah engkau mengepungnya; 13. dan setelah Tuhan, Allahmu, menyerahkannya ke dalam tanganmu, maka haruslah engkau membunuh seluruh penduduknya yang laki-laki dengan mata pedang. 14. Hanya perempuan, anak-anak, hewan dan segala yang ada di kota itu, yakni seluruh jarahan itu, boleh kau rampas bagimu sendiri, dan jarahan yang dari musuhmu ini, yang diberikan kepadamu oleh Tuhan, Allahmu, boleh kau pergunakan. 15. Demikianlah harus kau lakukan terhadap segala kota yang sangat jauh letaknya dari tempatmu, yang tidak termasuk kota-kota bangsa-bangsa di sini. 16. Tetapi dari kota-kota bangsa-bangsa itu yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu, janganlah kau biarkan hidup apa pun yang bernafas…”
Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan benar-benar sangat kejam dan sadis. Dan ayat-ayat ini serta ayat-ayat sebelumnya, sepertinya berbicara dalam kondisi perang. Namun demikian walaupun dalam keadaan perang, sifat Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun, tidak akan hilang begitu saja walaupun dalam kondisi perang.apakah sekejam dan sesadis itu sifat Tuhan di dalam Alkitab (Bible) terhadap hamba-hambaNya yang tidak berdaya ketika mengalami kekalahan dalam peperangan? Dan pelajaran serta hikmah apa yang bisa kita abil dari ayat-ayat tersebut? Apakah ayat-ayat tersebut mendidik manusia ke jalan yang benar? Bagaimana mungkin Tuhan memerintahkan kepada manusia untuk melakukan perbuatan keji, sadis dan biadab tanpa batas, sementara Dia sendiri melarang hambanya berbuat seperti itu? Bagaimana mungkin Tuhan akan menghukum para pelaku keji, sadis dan biadab seperti itu, padahal Dia sendiri yang menyuruh melakukannya? Kalau begitu dimana letak ajaran kasih yang selama ini dipropagandakan oleh Kristen dalam menyebarkan ajaran agamanya?
Mari kita bandingkan dengan Al Qur’an, apakah Allah dalam Al Qur’an, apakah Allah dalam Al Qur’an memerintahkan manusia untuk berbuat kejam dan sadis? Dan apakah dalam memerangi musuh-musuh Allah, lalu sifat Allah yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun akan berobah menjadi kejam dan sadis terhadap musuh-musuh yang sudah tidak berdaya?
Kemudian bagaimana etika yang diatur oleh Allah dan RasulNya ketika dalam memperlakukan lawan-lawan yang tidak berdaya maupun terhadap para tawanan perang dan makhluk lainnya. Mari kita lihat beberapa ayat dan hadis sebagai berikut :
 
وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
190. Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (1) (Qs 2 Al Baqarah 190)

فَإِذا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا فَضَرْبَ الرِّقَابِ حَتَّى إِذَا أَثْخَنْتُمُوهُمْ فَشُدُّوا الْوَثَاقَ فَإِمَّا مَنًّا بَعْدُ وَإِمَّا فِدَاءً حَتَّى تَضَعَ الْحَرْبُ أَوْزَارَهَا ذَلِكَ وَلَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لانْتَصَرَ مِنْهُمْ وَلَكِنْ لِيَبْلُوَ بَعْضَكُمْ بِبَعْضٍ وَالَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَلَنْ يُضِلَّ أَعْمَالَهُمْ
4. Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir. Demikianlah apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang syahid pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.  (Qs 47 Muhammad 4)
Hadits Shahih Muslim No 1726 menyebutkan, dalam peperangan Rasulullah saw. melarang membunuh wanita dan anak-anak.
Hadits Shahih Muslim No 1728 menyebutkan larangan menebang /merusak tanaman.
Subhanallah, sungguh mulia etika yang diatur oleh Allah dan Rasul Nya ketika menghadapi musuh-musuh yang memrangi kita, baik secara perorangan maupun ketika dalam peperangan. Bayangkan saja, terhadap tanaman saja tidak boleh ditebang atau dirusak begitu saja tanpa alasan yang benar, apabila terhadap manusia. Oleh sebab itu membunuh wanita, anak-anak dan orang yang sudah tidak berdaya, itu dilarang  dalam ajaran Islam.
Nah dengan demikian kita manusia bisa mengambil hikmah dan pelajaran atas apa saja yang telah diatur dan ditentukan oleh Allah dan rasul-Nya dalam Al Qur’an dan Hadist Rasulullah saw.
Jadi tuduhan selama ini yang sering dilontarkan oleh mereka yang benci terhadap Islam  bahwa katanya Islam ajaran  Teroris dan Kristen ajarannya Kasih, sama sekali tidak beralasan karena tidak ada satu dalil atau ayat di dalam Al Qur’an dan Hadits yang menyuruh atauh memerintahkan untuk melakukan Teroris. Justru ayat-ayat kejam dan sadis (teroris) begitu banyak kita jumpai di dalam Alkitab. Para Pendeta pun mengakui bahwa banyak ayat-ayat dalam  Alkitab Perjanjian Lama dimana banyak terdapat  firman-firman Allah yang kejam dan berat yang sulit diikuti oleh Umat Kristiani.



(1). Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan "perdamaian di Hudaibiah", yaitu ketika Rasulullah SAW dicegat oleh kaum Quraisy untuk memasuki Baitullah. Adapun isi perdamaian tersebut antara lain agar kaum Muslimin menunaikan umrahnya pada tahun berikutnya. Ketika Rasulullah SAW beserta shahabatnya mempersiapkan diri untuk melaksanakan umrah tersebut sesuai dengan perjanjian, para shahabat khawatir kalau-kalau orang-orang Quraisy tidak menepati janjinya, bahkan memerangi dan menghalangi mereka masuk di Masjidil Haram, padahal kaum Muslimin enggan berperang pada bulan haram. Turunnya "Waqatilu fi sabilillahil ladzina (S. 2: 190) sampai (S. 2: 193)" membenarkan berperang untuk membalas serangan musuh. (Diriwayatkan oleh al-Wahidi dari al-Kalbi, dari Abi Shaleh yang bersumber dari Ibnu Abbas.)
 

6. MENGAJARKAN MANUSIA JALAN YANG BENAR

Mari kita membaca Alkitab II Raja-raja 2 : 23 – 24 berikut ini:
23. Elisa pergi dari sana ke Betel. Dan sedang ia mendaki, maka keluarlah anak-anak dari kota itu, lalu mencemoohkan dia serta berseru kepadanya : “Naiklah botak, naiklah botak!” 24. Lalu berpalinglah ia ke belakang, dan ketika ia melihat mereka, dikutuknyalah mereka demi nama Tuhan. Maka keluarlah dua ekor beruang dari hutan, lalu mencabik-cabik dari mereka empat puluh dua orang anak.”
Sungguh tragis sekali peristiwa tersebut. Bagaimana mungkin seorang Nabi seperti Nabi Elisa yang kebetulan kepalanya gundul alias botak, kemudian hanya diolok-olok oleh anak-anak kecil dengan kata-kata “naiklah botak, naiklah botak!” lalu dia mengutuk anak-anak  tersebut.
Yang lebih ironis lagi, Nabi Elisa mengutuk mereka demi nama Tuhan. Kemudian Tuhan mengabulkan permohonan Nabi Elisa, maka keluarlah dua ekorn beruangg hutan yang ganas lalu mencabik-cabik tubuh anak-anak tadi yang jumlahnya 42 (empat puluh dua)  orang anak.
Timbul pertanyaan:
Pertama : Apakah pantas seorang nabi seperti Elisa bisa menimbulkan kemarahan begitu besar hanya diolok-olok oleh anak-anak kecil?
Kedua : Apakah pantas nabi Elisa mengutuk anak-anak tadi hanya karena dia diolok-olok?
Ketiga : Apakah pantas Nabi Elisa memohon kepada Tuhannya agar anak-anak tersebut dibunuh oleh beruang hutan hanya karena olokan mereka?
Keempat : Wajarkah Tuhan mengabulkan permintaan Nabi Elisa kepadaNya dengan mengutus dua ekor beruang hutan untuk mencabik-cabik tubuh anak-anak kecil tersbeut?
Kelima : Apakah seimbang olokan anak kecil kepada Nabi Elisa ditukar dengan nyawa mereka empat puluh dua orang mati dicabik-cabik beruang hutan?
Keenam : Mengapa Nabi Elisa tidak biarkan saja anak-anak tersebut mengolok-olokkannya karena mereka masih kecil dan belum mengerti akan dosa?
Ketujuh : Mengapa nabi Elisa tidak maafkan saja mereka yang masih anak-anak itu?
Kedelapan : Apakah Tuhan tidak tahu bahwa apa yang dilakukan oleh anak-anak itu tidak pantas untuk diberi ganjaran sampai harus membunuh mereka semua?
Kesembilan : Siapa yang bedosa dalam hal ini, nabi Elisa atau anak-anak kecil tersebut?
Kesepuluh : Siapa yang kejam dan sadis dalam peristiwa tersebut, apakah nabi Elisa, anak-anak tersebut atau Tuhan itu sendiri?
Kesebelas : Contoh atau pelajaran dan hikmah apakah yang bisa kita ambil atas keteladanan Nabi Elisa dalam peristiwa tersebut?
Kedua belas: Bagaimana dengan orang tua dan keluarga dari anak-anak yang semuanya mati dimakan beruang tersebut, apakah mereka ridho atas perbuatan nabi Elisa terhadap anak-anak mereka?
Ketiga belas : Apakah keluarga dari ke 42 anak tadi tidak sedih dan merasa kehilangan anak-anak kesayangan mereka atas musibah pada kejadian tersebut?
Keempat belas : Apa hikmah yang bisa kita ambil dari peristiwa yang kejam dan sadis itu?
Kelima belas : Apakah peristiwa tersebut membimbing dan menunjukkan kita kepada jalan yang lurus, dan pendidikan serta pelajaran apa yang Tuhan berikan bagi kita manusia atas peristiwa itu?
Nah pembacalah yang akan menilai apakah rasional atau tidak kisah yang sangat memilukan tersebut. Jika jawabannya rasional, berarti itu benar-benar firman-firman Allah atau wahyu Allah, tapi kalau jawabannya tidak rasional, maka itu berarti ayat tersebut bukan yang difirmankan Tuhan atau bukan wahyu Allah.
Sekarang mari kita bandingkan Nabi Elisa di dalam Al Qur’an, apakah sama seperti yang di dalam Alkitab? Kalau di dalam Alkitab namanya Nabi Elisa, tetapi di dalam Al Qur’an namanya Ilyasa’. Perhatikan ayat Qur’an sebagai berikut :
Bagaimana dengan Nabi Ilyasa’ (Elisa) di dalam Al Qur’an??
 
86. dan Ismail, Alyasa', Yunus dan Luth. Masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya), 87. Dan Kami lebihkan (pula) derajat sebahagian dari bapak-bapak mereka, keturunan dan saudara-saudara mereka. Dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi nabi-nabi dan rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (Qs 6 An An’am 86 – 87)
Ayat Al Qur’an tersebut menjelaskan bahwa Nabi Ilyasa’ (Elisa) adlaah salah satu nabi yang dipilih Allah untuk menjalankan perintahNya dan Allah jelaskan bahwa Ilyasa’ (Elisa) dilebihkan derajatnya bersama-sama Ismail, Yunus dan Luth. Kemudian Allah jelaskan bahwa Ilyasa’ (Elisa) bersama keluarga dan orang tua serta nabilainnya, Dia tunjuki mereka pada jalan yanglurus.
Kalau Allah telah memilih dan menjadikan Elisa seorang nabi-Nya tentuh sangat mustahil kalau Nabi Elisa melakukan perbuatan kejam dan sadis, apalagi terhadap anak-anak kecil yang belum mengerti dosa dan salah.
Kita sebagai manusia, kalau memilih seorang utusan mewakili negara, tentu kita akan pilih diantara yang terbaik karena akan mengharumkan nama bangsa dan negara bukan? Mengapa Tuhan tidak melakukannya? Nah ini merupakan salah satu bukti bahwa penulis Alkitab justru melecehkan Nabi Elisa, sementara Al Qur’an sangat memuliakan beliau sebagai orang pilihanNya.

Dalam Alkitab, Tuhan mengajarkan yang jorok-jorok?
Marilah kita baca Yehezkiel 4 : 12 – 15 di bawah ini:
“Makanlah roti itu seperti roti jelai yang bundar dan engkau harus membakarnya diatas kotoran manusia yang sudah kering di hadapan mereka.” Selanjutnya Tuhan berfirman : “Aku akan membuang orang Israel k etengah-tengah bangsa-bangsa dan demikianlah mereka akan memakan rotinya najis disana.” Maka kujawab : “Aduh, Tuhan Allah, sungguh, aku tak pernah dinajiskan dan dari masa mudaku sampai sekarang tak pernah kumakan bangkai atau sisa mangsa binatang buas; lagipula tak pernah masuk ke mulutku ini daging yang sudah basi.” Lalu firman-Nya kepadaku : “Lihat, kalau begitu Aku mengijinkan engkau memakai kotoran lembu ganti kotoran manusia dan bakarlah rotimu di atasnya.”
Menyimak bunyi ayat-ayat tersebut, dapat kita pahami bahwa Tuhan di dala Alkitab koq menajarkan manusia cara-cara yang jorok. Terhadap orang tawanan atau tahanan walaupun di dalam penjara, tidak ada seorang petugas penjara yang begitu tega menyuruh membakar roti di atas kotoran manusia atapun kotoran binatang bagi tawanannya. Tapi anehnya Tuhan di dalam Alkitab justru begitu tega menyuruh membakar roti di atas kotoran manusia dan kotoran hewan. Entahlah apa hikmah dan pelajaran yang bisa diambil pada ayat-ayat tersebut. Mestinya Tuhan harus mengajarkan dan mendidik serta menunjuki manusia ke jalan yang benar dan lurus, bukan mengajarkan yang jorok seperti itu. Coba kita bandingkan dengan Al Qur’an, bagaimana Allah Swt. mengajarkan manusia ke jalan yang benar, bersih dan bebas dari jorok.

Dalam Al Qur’an, Allah mengajarkan kebersihan :
 
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
222. Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu adalah suatu kotoran." Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri[137] dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci[138]. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.  (Qs 2 Al Baqarah 222)
 
Ayat Qur’an tersebut, jelas menuntun dan menajari agar hidup bersih dan menjauhkan dari kotoran. Darah haid saja dianggap kotoran oleh Allah, apalagi kotoran manusia. Jadi Allah ajarkan manusia agar hidup harus bersih dan Dia menyukai kebersihan itu. Dalam beberapa hadits, dikatakan oleh Rasulullah saw bahwa “Kebersihan itu adalah bagian dari iman.”
Nabi Muhammad dan Al Qur’an memberi petunjuk pada jalan yang benar :
 
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِمَّا كُنْتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ
يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ 
15. Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyi kan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan[408].  16. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.  (Qs Al Maidah 15 – 16)


[137]. Maksudnya menyetubuhi wanita di waktu haidh.
[138]. Ialah sesudah mandi. Adapula yang menafsirkan sesudah berhenti darah keluar.
[408]. Cahaya maksudnya: Nabi Muhammad s.a.w. dan Kitab maksudnya: Al Quran.


7.  AYAT-AYATNYA TIDAK BOLEH ADA YANG BERTENTANGAN


Salah satu dari sekian banyak syarat kitab itu dikatakan suci, apabila isinya tidak terdapat ayat-ayat yang bertentangan satu sama lainnya. Jika ternyata terdapat begitu banyak ayat-ayat yang bertetangan satu sama lainnya, tentu kitab tersebut tidak memenuhi syarat dikatakan kitab suci. Kenapa? Sebab Tuhan pasti bebas dari segala kesalahan dan khilaf. Berbeda dengan kita manusia yang sangat lemah dan pasti sering berbuat salah dan khilaf. Untuk itu marilah kita cek kandungan Alkitab,apakah terdapat ayat-ayat yang bertentangan di dalamnya atau tidak. Perhatikan ayat-ayat sebagai berikut :  
Mana yang benar 22 atau 42 tahun?
“Ia (Ahazia) berumur dua puluh dua tahun pada waktu ia menjadi raja dan setahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Atalya, cucu Omri raja Israel.”
Ayat di atas bertentangan dengan 2 Tawarikh 22 : 2 di bawah ini:
“Ahazia berumur empat puluh dua tahun pada waktu ia menjadi raja dan setahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Atalya, cucu Omri.”
Pertanyaannya : Mana yang benar, 22 tahun atau 442 tahun? Penulis kitab Raja-Raja atau penulis kitab Tawarikh? Apakah mungkin seseorang menjadi raja pada suatu negeri pada saat yang sama, tapi dengan umur yang berbeda? Atau mungkinkah Tuhan yang salah mewahyukan kepada penulis Alkitab? Tentu saja tidak! Yang salah pasti penulis Alkitab itu sendiri, bukan Tuhan. Ini merupakan salah satu bukti bahwa di dalam Alkitab terdapat begitu banyak ayat-ayatnya yang bertentangan satu sama lainnya.
Kesimpulannya : Benar dia-dua pasti mustahil! Salah dua-dua, mungkin saja! Tapi kalau benar, pasti salah satu! Tapi yang mana?
Kalau penulis Kitab Raja-Raja benar, maka penlis Kitab Tawarikh pasti salah! Atau kalau penulis Kitab Tawarikh benar, maka penulis Kitab Raja-Raja salah!

Mana yang benar 1700 atau 7000 orang?
Silahkan baca Alkitab 2 Samuel 8 : 4 di bawah ini :
“Daud menawan dari padanya 1700 orang pasukan berkuda dna 20.000 orang pasukan berjalan kaki, lalu Daud menyuruh memotong urat keting segala kuda kereta, tetapi dengan meninggalkan 100 ekor kuda kereta.”
Ayat di atas bertentangan dengan 1 Tawarikh 18 : 4 di bawah ini :
“Daud merebut daripadanya 1000 kereta, 7000 orang pasukan berkuda dan 20.000 orang pasukan berjalan kaku, lalu Daud menyuruh memotong urat keting segala kuda kereta, tetapi meninggalkan 100 ekor kuda kereta.”
Kedua penulis Kitab tersebut jelas memberikan data yang berbeda. Menurut penulis Kitab Samuel, Daud menawan 1700 orang pasukan berkuda, tetapi menurut Kitab Tawarikh, Daud menawan 7000 orang pasukan berkuda. Pertanyaannya, mana yang benar, 1700 atau 7000? Penulis Kitab Samuel atau Tawarikh? Sebab kalau dua-duanya benar, pasti mustahil! Dua-dua salah, mungkin saja! Tetapi kalau benar, pasti salah satu, tapi yang mana?

Mana yang benar, baru meninggal atau hampir mati?
Matius 9 : 18 menceritakan :
“Sementara Yesus berbicara demikian kepada mereka, datanglah seorang kepala rumah ibadat, lalu menyembah Dia dan berkata : “Anakku perempuan baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tanganmu di atasnya, maka ia akan hidup.”
Ayat di atas bertentangan dengan Markus 5 : 23 berikut ini :
“Dan memohon dengan sangat kepadanya : “Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup.”
Menurut penulis Injil Matius, kepala rumah ibadat itu melaporkan dan memohon kepada Yesus untuk menghidupkan anaknya perempuan yang baru meninggal. Tetapi menurut penulis Injil Markus, kepala rumah ibadat itu melaporkan dan memohon kepada Yesus untuk menyelamatkan anak perempuannya yang sedang sakit dan hampir mati. Pertanyaannya, manakah yang benar, anaknya perempuan itu baru saja meninggal atau sedang sakit dan hampir mati?
Kalau penulis Injil Matius benar, pasti penulis Injil Markus salah! Benar dua-dua, pasti mustahil. Salah dua-dua, mungkin saja. Kalau benar, pasti salah satu, tapi yang mana?
Pertentangan-pertentangan antar ayat di dalam Alkitab kami dapati ratusan ayat. Tapi dari tiga contoh pertentangan ayat seperti itu saja sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa sesungguhnya di dalam Alkitab kitab suci umat Kristiani benar-benar terdapat ayat-ayat yang bertentangan satu sama lainnya.
Dengan demikian itu berarti bahwa di dalam Alkitab terdapat ayat-ayat yang benar, tetapi juga terdapat ayat-ayat yang tidak benar. Atau dengan kata lain, kandungan Lakitab bercampur antara yang benar dan salah atau bercampur antara yang haq dan yang bathil, namun sayangnya banyak umat Kristiani tidak mengkritisi kitab mereka selain menerima apa adanya.
Nah sekarang, bagaimana dengan kitab suci Al Qur’an? Apakah juga terdapat ayat-ayat yang bertentangan di dalamnya? Mari kita simak pernyataan Allah dalam ayat-ayat-Nya sebagai berikut :
 
أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلافًا كَثِيرًا
82. Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (Qs 4 An Nisa’ 82)

Ayat tersebut merupakan pernyataan langsung dari Allah Swt. bahwa Al Qur’an benar-benar berasal dari Dia. Kata Allah sekiranya AL Qur’an bukan berasal dari-Nya tentu mereka akan dapati pertentangan di dalamnya. Ini membuktikan bahwa Al Qur’an bebas dari pertentangan di dalamnya, karena Dialah yang menurunkan Al Qur’an tersebut, sehingga terjamin kebenarannya. Oleh sebab itu, kalau ada orang yang mengatakan bahwa Al Qur’an terdapat banyak ayat-ayat yang bertentangan, itu karena mereka tidak paham dan tidak bisa membaca Al Qur’an yang berbahasa asli, yaitu bahasa Arab, karena yang mereka baca hanyalah terjemahan secara tekstual saja.


8.  BERBICARA TENTANG ILMU PENGETAHUAN HARUS BISA DIBUKTIKAN


Kisan penciptaan alam menurut Alkitab dapat kita baca pada Kejadian 1 : 1 – 19 berikut ini :
1. Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. 2. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.”
3. Berfirmanlah Allah : “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi. 4. Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap. 5. Dan Allah menamai terang itu siang dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama.”
6. Berfirmanlah Allah : “Jadilah cakrawala di tengah segala air untuk memisahkan air dari air.” 7. Maka Allah menjadikan cakrawala dan Ia memisahkan airj yang ada di bawah cakrawala itu dari air yang ada di atasnya. Dan jadilah demikian. 8. Lalu Allah menamai cakrawala itu langit. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari kedua.”
9. Berfirmanlah Allah : “Hendaklah segala air yang ada di bawah langit berkumpul pada satu tempat, sehingga kelihatan yang kering.” Dan jadilah demikian. 10. Lalu Allah menamai yang kering itu darat dan kumpulan air itu dinamai-Nya laut. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. 11. Berfirmanlah Allah : “Hendaklah tanah menumbuhkan tunas-tunas muda, tumbuh-tumbuhan yang berbiji, segala jenis pohon buah-buahan yang menghasilkan buah yang berbiji, supaya ada tumbuh-tumbuhan di bumi.” Dan jadilah demikian. 12. Tanah itu menumbuhkan tunas-tunas muda, segala jenis tumbuh-tumbuhan yang berbiji dan segala jenis pohon-pohonan yang menghasilkan buah yang berbiji. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. 13. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari ketiga.”
14. Berfirmanlah Allah : “Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda mneunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun, 15. dan sebagai penerangh pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi.” Dan jadilah demikian.”
16. Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang. 17. Allah menaruh semuanya itu di cakrawala untuk menerangi bumi, 18. dan untuk menguasai siang dan malam, dan untuk memisahkan terang dari gelap. 19. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keempat.”
Kalau kita baca ayat-ayat Alkitab tersebut, sepertinya tidak ada masalah. Padahal kalau kita sedikit jeli dan teliti, sebenarnya pada ayat-ayat tersebut banyak bermasalah.
Contoh : Pada ayat ke 5 dikatakan oleh penulis Alkitab sebagai berikut : “Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama.”
Kemudian pada ayat ke 8 dikatakan juga sebagai berikut : “Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari kedua.”
Dan sama saja pada ayat ke 13 juga dikatakan sebagai berikut : “Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari ketiga.”
Pertanyaannya : Darimana penulis Alkitab mengetahui dan menentukan petang, pagi, hari pertama, hari kedua dan hari ketiga, sementara pada saat itu matahari, bulan dan bintang belum diciptakan?
Bukankah untuk mengetahui petang harus ada matahari yang sudah mulai tenggelam? Dan bukankah untuk mengetahui pagi, harus ada matahari yang baru mau terbit.
Dan bukankah untuk mengetahui hari pertama, hari kedua dan hari ketiga, harus ada perputaran bumi mengelilingi matahari selama 24 jam?
Mungkin tidak terpikirkan oleh penulis Alkitab jaman dahulu bahwa manusia yang datang belakangan dari mereka, justru lebih pintar, lebih kritis dan ilmu pengetahuan akan berkembang dengan begitu spat dan modern serta vanggih. Ini membuktikan bahwa ayat-ayath tersebut bukan yang difirmankan oleh Allah, tapi hanya pendapat para penulis Alkitab itu sendiri, berdasarkan pengetahuan mereka yang masih terbatas pada saat itu.
Kalau wahyu atau firman Allah, tentu tidak mungkin Tuhan salah atau keliru memberikan informasi tentang penciptaan alam semesta ini.
Kalau mulai dari ayat 14 s/d 19, itu masih bisa diterima, sebab pada ayat-ayat tersebut benda-benda penerang, seperti matahari, bulan, dan bintang sudah diciptakan Allah. Tetapi mulai ayat 1 s/d 13 tidak masuk akal sebab tidak rasional, dan bertentangan dengan ilmu pengetahuan. (Lebih jelas lagi baca buku tulisan DR. Maurice Bucaille berjudul : “Bible, Qur’an dan Sains Modern”)

Menurut Alkitab, bumi dan langit ditopang oleh tiang
Mari kta baca Ayub 9 : 5 – 6 di bawah ini:
“Dialah yang memindahkan gunung-gunung dengan tidak diketahui orang, yang membongkar-bangkirkannya dalam murka-Nya; yang menggeserkan bumi dari tempatnya, sehingga tiangnya bergoyang-goyang.”
Selanjutnya baca Ayub 26 : 11 :
“Tiang-tiang langit bergoyang-goyang, tercenang-cengang oleh hardik-Nya.”
Silahkan baca Mazmur 75 : 3 – 4 :
“Apabila Aku menetapkan waktunya, Aku sendiri akan menghakimi dengan kebenaran. Bumi hancur dan semua penduduknya; tetapi Akulah yang mengokohkan tiang-tiangnya.”
Berdasarkan ayat-ayat Alkitab tadi, bumi dan langit punya tiang. Ini sangat bertentangan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahkan mereka sudah sampai menginjakkan kakinya di bulan. Tapi mereka tidak pernah menemukan dimana letak tiang-tiang langit dan bumi tersbeut.j kalau sekiranya langit dan bumi punya tiang, niscaya sudah banyak pesawat terbang hancur karena menabrak tiang-tiang langit dan bumi tersebut. Mengatakan bumi dan langit punya tiang, pasti bukan berasal dari Tuhan, sebab sangat tidak mungkin Tuhan salah atau tidak tahu. Ini pasti kesalahan penulis Alkitab yang pada saat itu ilmu pengetahuan mereka masih sangat rendah jadi wajar saja kalau mereka keliru.

Menurut Al Qur’an, langit dan bumi tidak mempunyai tiang
 
خَلَقَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا وَأَلْقَى فِي الأرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِكُمْ وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ كَرِيمٍ
10. Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik. (Qs 31 Luqman 10)

Ayat Al Qur’an tersebut menjelaskan bahwa Allah menciptakan langit tanpa tiang. Di jaman Rasulullah Muhammad saw. hidup, belum ada seorangpun yang pernah menjelajahi ruang angkasa, selain Rasulullah saw. ketika peristiwa Isra’ Mi’raj. Dan beliau tidak menginformasikan kalau langit itu bertiang. Dan memang para ahli jaman sekarangpun dimana mereka telah sampai ke bulan, bahkan melewatinya, mengakui bahwa langit benar-benar tidak bertiang.
Kalau sekiranya langit itu benar-benar bertiang, sulit dibayangkan sudah berapa banyak pesawat terbang yang menabraknya bukan? Tetapi sampai saat ini belum ada seorangpun yang ahli ruang angkasa pernah memberikan bukti atau kesaksian bahwa langit itu bertiang. Semua ini membuktikan bahwa kesaksian ayat Al Qur’an benar-benar sesuai dengan sains dan ilmu pengetahuan modern saat ini.

9.  HARUS SESUAI FITHRAH MANUSIA

Mari kita membaca Injil Matius 4 : 1 – 2 :
“Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis. Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus.”
Ayat tersebut berbicara bagaimana puasanya Yesus. Ternyata Yesus berpuasa 40 hari 40 malam tidak makan dan tidak minum. Nah hal ini sangat mustahil diikuti oleh umat Kristiani. Kalau umat Kristiani amalkan ayat ini, artinya harus berpuasa 40 hari 40 malam tanpa makan dan minum, tentu berakibat kematian. Puasa semacam ini tidak sesuai dengan fithrah manusia, makanya tidak mungkin diamalkan oleh umat Kristen.
Beda dengan puasanya Nabi Muhammad saw. yang tidak makan dan minum sebelum terbit fajar, dan berbuka puasa pada saat maghrib dikumandangkan. Puasa inilah yang sesuai dengan fithrah manusia dan bisa diikuti oleh seluruh pengikutnya sejak dahulu kala sampai sekarang maupun akan datang.
Baca pula Surat Paulus : I Korintus 7 : 1
“Dan sekarang tentang hal-hal yang kamu tuliskan kepadaku. Adalah baik bagi laki-laki, kalau ia tidak kawin.”
Kalau ayat Alkitab ini benar-benar diamalkan oleh semua umat Kristiani bahwa laki-laki lebih baik kalau tidak kawin, bisa dibayangkan apa jadinya dengan kehidupan umat manusia di muka bumi ini. Hal ini tentu sangat bertentangan dengan fithrah manusia. Jika bagi setiap laki-laki lebih baik kalau tidak kawin, bagaimana dengan nasib para wanita? Jadi tidak mungkin ayat tersebut dikatakan sebagai firman Tuhan, karena justru Tuhan menciptakan manusia berpasang-pasangan dan menyuruh manusia untuk berkembang biak di muka bumi ini.
Surat Paulus : I Korintus 7 : 8
“Tetapi kepada orang-orang yang tidak kawin dan kepada janda-janda aku anjurkan, supaya baiklah mereka tinggal dalam keadaan seperti aku. (tidak kawin).”
Paulus menganjurkan kepada orang-orang yang tidak kawin dan para janda agar tidak usah kawin seperti dia yang tidak kawin. Kalau ayat ini dipraktekkan oleh umat Kristiani, bisa dibayangkan apa yang akan terjadi, padahal manusia bukan malaikat yang tidak punya nafsu. Kalau begitu, buat apa Tuhan ciptakan manusia yang memiliki nafsu kalau tidak ada penyalurannya? Jelas sekali ajaran ini sangat bertentangan dengan fithrah manusia.
Surat Paulus I Korintus 7 : 37 – 38
“Tetapi kalau ada seorang, yang tidak dipaksa untuk berbuat demikian, benar-benar yakin dalam hatinya dan benar-benar menguasai kemauannya, telah mengambil keputusan untuk tidak kawin dengan gadisnya, ia berbuat baik. Jadi orang yang kawin dengan gadisnya berbuat baik, dan orang yang tidak kawin dengan gadisnya berbuat lebih baik.”
Seandainya umat Kristianij benar-benar mau hidup sesuai dengan ucapan Paulus pada ayat tersebut, bahwa tidak kawin merupakan perbuatan lebih baik daripada harus kawin, lama-kelamaan manusia bisa punah di dunia. Tetapi buktinya hampir semua lelaki maupun wanita umat Kristiani kawin atau menikah.ini membuktikan bahwa manusia tidak sanggup mengikuti seperti ayat tersebut.
Kenapa? Sebab bertentangan dengan fithrah manusia. Jadi sangat tidak mungkin Allah mewahyukan sesuatu yang bertentangan denan fithrah manusia ciptaanNya sendiri. Allah yang menciptakan manusia, tentu Dia lebih tahu kelemahan makhlukNya. Buat apa Dia ciptakan berpasangan-pasangan seperti laki-laki dan wanita kalau tidak menikah itu akan lebih baik daripada yang menikah?
Banyak bukti-bukti para pemimpin agama Katholik yang tidak boleh beristri, pada akhirnyah tidak kuat menahan godaan syahwatnya, hingga terjadi perselingkungan, bahkan punya anak di luar nikah. Dan banyak para biarawati yang tidak kuat, akhirnya mereka keluar lalu menikah dan berumah tangga. Lebih jelasnya silahkan baca buku tulisan Nigel Cawthrone “Kehidupan Seks Paus” yang diterbitkan oleh Victory Surabaya.
Jika ada pria maupun wanita, jika tidak mau kawin atau menikah, umumnya ada kelainan pada dirinya. Pria yang sudah menikah saja cukup banyak yang masih merasa ingin menambah istri lagi, atau maih tertarik pada wanita cantik, apalagi yang belum menikah.

Islam sesuai dengan fithrah manusia
 
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ
30. Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui[1168], (Qs 30 Ar Rum 30)
 
Maksud ayat tersebut bahwa kita manusia harus berpegang teguh pada syari’at yang telah Allah tetapkan atas manusia. Allah yang menciptakan manusia, tentu Dia yang paling tahu kebutuhan manusia ciptaanNya itu.
Manusia siapapun dia, pasti punya hari nurani yang paling dalam. Pada dasarnya manusia mengakui bahwasanya Tuhan itu Esa. Dan kalau ditanya siapa yang menciptakan langit dan bumi, pasti dia akan menjawab Allah. Menikahpun merupakan bagian dari fithrah manusia yang diberikan oleh Allah Swt  kepada setiap manusia.
Kalau ada manusia yang tidak mau menikah, tidak mau kawin, tidak mau berumah tangga, tidak mau punya keturunan, jelas hal itu bertentangan dengan fithrah manusia. Jika hal itu terjadi, berarti manusia tersebut punya kelainan jiwa atau kelainan fisik.
Akan tetapi bagi manusia yang normal lahir dan batin, lalu dianjurkan oleh seseorang penulis Alkitab dengan alasan itu berasal dari firman Tuhan, lalu dikatakannya bahwa lebih baik kalau lelaki tidak menikah, jelas hal itu bertentangan dengan fithrahnya sendiri.
Buktinya hampir 100% umat Kristiani menikah. Bahkan dewasa ini ada yang membolehkan menikahkan antar sesama jenis. Na’udzubillaahimindzaalik!
Padahal perkawinan sesama jenis jelas dilarang agama. Nah ini membuktikan bahwa manusia itu butuh untuk menyalurkan hawa nafsunya, asalkan dengan cara yang benar. Dalam Islam, menikah itu adalah ibadah, sebagaimana ayat Al Qur’an sebagai berikut :
 
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
21. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.  (Qs 30 Ar Rum 21)
 
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
13. Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Qs 49 Al Hujurat 13)

Pada ayat tersebut Allah menjelaskan bahwa Dia ciptakan manusia berpasang-pasangan agar mereka berkembang biak. Ini menunjukkan bahwa manusia itu disuruh kawin aagr berketurunan. Dan masih dalam ayat tersebut Allah tidak mengatakan bahwa yang paling mulia yaitu yang tidak kawin, tetapi yang paling mulia disisi-Nya yaitu yang paling bertakwa. Inilah ajaran yang sesuai firhrah manusia.



[1168]. Fitrah Allah: maksudnya ciptaan Allah. Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar. Mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantaran pengaruh lingkungan.


10.  KITAB TERSEBUT BISA BERBICARA, DIA BERASAL  DARI ALLAH


Satu-satunya kitab suci yang bisa berbicara bahwa dia berasal dari Allah adalah Al Qur’an. Artinya Al Qur’an itu sendiri bisa memberikan kesaksian bahwa dia itu benar-benar wahyu yang Allah turunkan. Hal ini bisa kita buktikan karena tertulis di dalam Al Qur’an itu sendiri sebagai berikut :
الر تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْمُبِينِ
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
1. Alif, laam, raa[741]. Ini adalah ayat-ayat Kitab (Al Quran) yang nyata (dari Allah). 2. Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.  (Qs 12 Yusuf 1 – 2)

Melalui ayat tersebut , Allah menyatakan Dia-lah yang menurunkan Al Qur’an berbahasa Arab. Terbukti sampai saat ini bahkan sampai kiamat Qur’an tetap berbahasa Arab. Dan pernyataanNya bahwa Dia yang menurunkan AL Qur’an, benar-benar tertulis dalam Al Qur’an.
Selanjutnya coba kita simak firman Allah pada ayat berikut ini:
 
  إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
9. Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya[793].(Qs 15 Al Hijr 9)

Ayat ini menjelaskan bahwa Qur’an itu benar-benar Allah yang turunkan dan Dia yang menjaganya. Terbukti Al Qur’an sampai saat ini tetap terjaga. Artinya Qur’an itu tetap terpelihara karena dihapal oleh jutaan manusia di dunia. Beda dengan Alkitab, tidak seorangpun di dunia yang hapal Alkitab. Nah bunyi ayat-ayat seperti ini tidak terdapat di dalam Alkitab.

Bagaimana Alkitab berbicara tentanf dirinya sendiri??
Kita baca Injil Lukas 1 : 1 – 3 berikut ini:
“Teofilus yang mulia, Banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita, seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan firman. Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu…”
Baca pula Alkitab Kisah Para Rasul 1 : 1
“Hai Teofilus, dalam bukuku yang pertama aku menulis tentang segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan Yesus…”
Kedua kitab tersebut, yaitu Injil Lukas dan Kisah Para Rasul, sama-sama ditulis oleh Lukas. Lukas ini bukanlah murid Yesus, dia adalah seorang tabib. Dan dia adalah teman seperjalanan dengan Paulus. Lukas tidak mengenal Yesus secara pribadi. Hal ini tertulis jelas dalam pembukaan Injil Lukas cetakan lama. Hanya saja Injil cetakan sekarang tidak lagi dimuath tentang latar belakang Lukas. Pada ayat tersebut Lukas katakan bahwa dia menulis Injil tersebut berdasarkan saksi mata dan darimereka. Pertanyaannya : Siapakah mereka itu? Dan siapakah saksi mata itu? Dari tulisan dan pengakuan Lukas sendiri pada beberapa ayat tersebut, jelas menunjukkan bahwa Lukas menulis Injilnya bukan karena ia mendapat wahyu langsung dari Allah kepadanya, tetapi hanya berasal dari “mereka” dan “saksi mata” yang tidak jelas siapa orangnya, kemudian dia tulis dan kirim kepada seseorang yang terkenal pada saat itu yang bernama Teofilus. Jadi jelas bahwa penulisan Injil Lukas bukan karena Lukas menerima wahyu langsung dari Allah, tetapi hanya berasal dari sumber-sumber yang tidak jelas. Awal pembukaan Injil Lukas, jelas terlihat bahwa Lukas menulis Injilnya dalam bentuk surat yang ditujukan kepada Teofilus, dan selanjutnya Lukas menulis kedua kalinya seperti dalam pembukaan Kisah Para Rasul.
Kemudian di dalalm Alkitab, terdapat 13 surat kiriman berasal dari Paulus dan 7 surat kiriman berasal darih Petrus, Yakobus, Yohanes dan Yudas. Perhatikan ayat-ayat sebagai berikut ;
“Dari Paulus, hamba Kristus Yesus yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitahukan Injil Allah.” (Roma 1 : 1)
“Dari Paulus, yang oleh kehendak Allah dipanggil menjadi rasul Kristus Yesus, dan dari Sostenes, saudara kita.” (1 Koruintus 1 : 1)
“Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah, kepada orang-orang kudus di Efesus, orang-orang percaya dalam Kristus Yesus.” (Eferus 1 : 1)
“Dari Paulus, rasul Kristus Yesus, oleh kehendak Allah, dan Timotius saudara kita.” (Kolose 1 : 1)
“Dari Paulus, seorang hukuman karena Kristus Yesus dan dari Timotius saudara kita, kepada Filemon yang kekasih, teman sekerja kami.” (Filipi 1 : 1)
“Salam dari Yakobus, hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus, kepada kedua belas suku di perantauan.” (Yakobus 1 : 1)
“Dari Petrus, rasul Yesus Kristus, kepada orang-orang pendatang, yang tersebar  di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia” (1 Petrus 1 : 1)
“Dari penatua kepada Ibu yang terpilih dan anak-anaknya yang benar-benar aku kasihi. Bukan aku saja yang mengasihi kami, tetapi juga semuah orang yang telah mengenal kebenaran.” (2 Yohanes 1 : 1)
“Dari Yudas, hamba Yesus Kristus dan saudara Yakobus, kepada mereka, yang terpanggil, yang dikasihi dalam Allah Bapa, dan yang dipelihara untuk Yesus Kristus.” (Yudas 1: 1)
Dari pembukaan semua surat-surat tersebut, jelasj sekali bahwa penlis surat-surat itu adalah penulis surat itu juga. Semua itu merupakan bentuk surath yang dikirim dan ditujukan kepada seseorang atau kelompok tertentu di suatu daerah. Jadi ayat-ayat tersebut semuanya hanyalah merupakan pernyataan dari seseorang yang ditunjukan juga kepada seseorang, dan bukan pernyataan dari Allah bahwa Dia-lah yang menurunkan Alkitab itu dan Dia pula yang menjaganya. Makanya jangan heran bahwa Alkitab dari waktu ke waktu selalu mengalami perubahan, karena tidak ada standar untuk mengecek apabila terjadi kesalahan.



[793]. Ayat ini memberikan jaminan tentang kesucian dan kemurnian Al Quran selama-lamanya.



11. TIDAK MELECEHKAN TERHADAP NABI-NABI ALLAH

Setian Nabi atau Rasul, pasti mereka adalah orang-orang pilihan Allah yang bertugas sebagai perantara untuk menyampaikan berita atau pesan-pesan bagi umat manusia. Sebagai orang pilihan, tentu mereka berakhlak mulia, karena mereka merupakan manusia pilihan yang akan menyampaikan firman-Nya, serta sekaligus memberikan teladan bagi uamtnya. Oleh sebab itu sangatlah mustahil jika ada para Nabi atau Rasul pilihanNya yang berakhlak tidak benar, apalagi berakhlak buruk.
Tetapi kenyataannya didalam Alkitab begitu banyak para Nabi yang akhlaknya sangat tidak pantas karena melakukan perbuatan yang sangat tercela. Sebagian besar umat Kristiani tidak mengetahui atau tidak menyadari akan hal ini. Ada juga yang baru mengetahuinya setelah diberitahu oleh orang lain. Atau ada juga yang baru mengetahuinya setelah membaca buku-buku tulisan para Kristolog atau setelah mereka mengikuti acara dialog atau diskusi maupun perdebatan.
Coba simak beberapa ayat Alkitab di bawah ini, lalu bandingkan dengan ayat di dalam Al Qur’an.
Nabi Nuh dalam Alkitab
Marilah kita membaca Kejadian 9 : 21 yan berbunyi sebagai berikut :
“Setelah ia (Nuh) minum anggur, mabuklah ia dan ia telanjang dalam kemahnya.”
Bisa kita bayangkan bagaimana seorang Nabi pilihan Allah minum anggur sampai mabuk dan telanjang. Walaupun itu ayat Alkitab atau Bible, kami sebagai umat Islam tidak yakin kalau seorang nabi sampai mabuk bahkan telanjang. Tapi itulah, percaya atau tidak, kenyataannya hal itu benar-benar tertulis jelas di dalam Alkitab.
Bandingkan dengan Al Qur’an yang menceritakan nabi-nabi berikut ini:
 
33. Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga 'Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing),  (Qs 3 Ali Imran 33)
Ternyata Al Qur’an sangat memuliakan nabi Nuh sebagai salah seorang pilihan Allah melebihi segala bangsa pada waktu itu. Bahkan pernah ketika nabi Nuh hampir berbuat salah, Allah langsung menegur atau mengingatkan beliau agar dia tidak berbuat kesalahan. Al Qur’an tidak pernah menceritakan peristiwa seperti di dalam Alkitab bahwa nabi Nuh mabuk dan telanjang karena meminum khamar atau minuman keras yang memabukkan, karena Nabi Nuh tidak pernah dan tidak mungkin akan melakukan hal-hal yang memalukan, apalagi menjerumuskan dia ke dalam dosa.

Nabi Abraham (Ibrahim) dalam Alkitab
Silahkan membaca Kejadian 20 : 11 – 12:
“Lalu Abraham berkata : “Aku berpikit : Takut akan Allah tidak ada di tempat ini; tentulah aku akan dibunuh karena isteriku. Lagipula ia (Sara) benar-benar saudaraku, anak ayahku, hanya bukan anak ibuku, tetapi kemudian ia menjadi isteriku.”
Konteks ayat Alkitab tersebut intinya yaitu Nabi Abraham karena takut kepada seorang raja Gerar yang bernama Abimelekh, ketika raja tersebut melihat Sara dia meminta kepada Abraham karena tidak diketahuinya kalau Sara istri Abraham. Anehnya Abraham rela memberikannya. Untung sebelum raja Abimelekh meniduri Sara, Allah menegor sang raja dalam suatu mimpi, agar jangan menjamah Sara, sebab dia telah bersuami. Keesokan harinya raja Abimelekh menemui Abraham dan sambil marah-marah kepada Abraham, dia mengembalikan Sara kepadanya. Lalu berkata Abraham kepada raja tersebut :
“Lagipula ia (Sara) benar-benar saudaraku, anak ayahku, hanya bukan anak ibuku, tetapi kemudian ia menjadi isteriku.”
Dari pengakuan Abraham tersebut, jelas bahwa Sara sebenarnya adalah adiknya sendiri, anak ayahnya dengan istri yang lain. Berarti Abraham dan Sara kakak beradik satu ayah lain ibu, lalu mereka berdua jadi suami istri. Pertanyaannya :
Pertama : Apakah mungkin seorang nabi sekaliber Abraham rela memberikan istrinya hanya kerena takut kepada seorang raja?
Kedua : Mungkinkah Abraham lebih takut kepada seorang raja daripada Allah Swt?
Ketiga : Mengapa Sara adiknya sendiri (anak ayahnya dari istri yang lain) yang menjadi istrinya?
Perhatikan ayat Alkitab sebagai berikut :
“Bila seorang laki-laki mengambil saudaraya perempuan, anak ayahnya atau anak ibunya, dan mereka bersetubuh, maka itu suatu perbuatan sumbang dan mereka harus dilenyapkan di depan orang-orang sebangsanya, orang itu telah menyingkapkan aurat saudaranya perempuan, maka ia harus menanggung kesalahannya sendiri.” (Imamat 20 : 17)
Nah berdasarkan ayat Alkitab itu sendiri bahwa Allah mengecam orang yang mengawini anak ayahnya atau anak ibunya.
Sekarang marilah kita lihat atau baca dalam Al Qur’an, apakah nabi Abraham sama seperti yang dilukiskan dalam Alkitab?

Nabi Ibrahim dalam Al Qur’an
 
 
45. Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. 46. Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. 47. Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.  (Qs 38 Shaad 45 – 47)

Subhanallah, AL Qur’an sangat memuliakan Nabi Ibrahim.alalh sendiri yang memberikan kesaksian bahwa Nabi Ibrahim adalah orang yanng berpandangan jauh, orang pilihanNya dan orang yang disucikan oleh Allah Swt. Jadi jelas sekali betapa sangat berbeda kisah nabi Ibrahim dalam Alkitab (Bible) dengan di dalam Al Qur’an. Jika Alkitab melecehkan Ibrahim, justru Al Qur’an sangat memuliakan beliau, pencari kebenaran tentu bisa menilai mana yang lebih rasional, Alkitab atau Al Qur’an.

Nabi Salomo (Sulaiman) dalam Alkitab
“Ia (Salomo) mempunyai tujuh ratus isteri dari kaum bangsawan dan tiga ratus gundik, istri-istrinya itu menarik hatinya dari pada Tuhan.” (I Raja-rajaj 11 : 3)
Ayat Alkitab (Bible) tersebut menceritakan bahwa Nabi Salomo (Sulaiman) punya 700 (tujuh ratus) istri dan 300 (tiga ratus) gundik. Berarti Nabi Salomo punya 1000 (seribu) orang. Sulit dibayangkan bagaimana seorang suami menggilir istri-istrinya yang begitu banyaknya. Jika setiap malam Salomo harus menggilir satu orang istri, berarti untuk kembali menggilir  istri yang pertama digilirnya, membutuhkan 1000 hari (sekitar 3 tahun). Yang tak kalah menarik lagi, dikatakan dalam ayat tersebut bahwa  nabi Salomo lebih tertarik hatinya pada istri-istrinya daripada kepada Tuhan. Tentu timbul pertanyaan sebagai berikut :
Pertama : Apakah benar bahwa seorang nabi seperti Salomo (Sulaiman) memiliki 700 orang istri dan 300 orang gundik dan dia lebih tertarik kepada wanita daripada Allah?
Kedua : “Jika semua istri-istrinya melahirkan anak, bagaimana mengingat anak-anaknya yang begitu banyak?
Ketiga : Apakah poligami yang tidak terbatas oleh nabi Salomoi boleh dicontohi oleh setiap umatnya?
Keempat : “Apakah hikmah atau suari teladan yang bisa kita ambil dari kisah nabi Salomo tersebut ?
Kelima : Bagaimana nasib anak-anak keturunan Salomo yang begitu banyaknya, sementara Salomo sendiria dalah anak haram, hasil hubungan gelap atau perselingkungan Daud dengan Batsyeba, istri anak buahnya sendiri yang bernama Uria?
Sekarang marilah kita lihat, bagaimana kisah Nabi Salomo (Sulaiman) menurut Al Qur’an, apakah sama seperti yang dikisahkan dalam Alkitab?

Nabi Sulaiman dalam Al Qur’an
a.         Nabi Sulaiman bisa menundukkan tiupan angin yang sangat kencang
 
81. Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu. (Qs 21 Al Anbiya 81)

b.         Nabi Sulaiman mengerti dan bisa  berbicara bahasa burung
 
16. Dan Sulaiman telah mewarisi Daud[1092], dan dia berkata: "Hai Manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu kurnia yang nyata."  (Qs 27 An Naml 16)
c.         Nabi Sulaiman bisa memerintahkan tentara jin, manusia dan burung
 
17. Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan). (Qs 27 An Naml 17)

d.         Nabi Sulaiman bisa berbicara dalam bahasa semut
 
18. Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari"; 19. maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: "Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh."  (Qs 27 An Naml 18 – 19)

e.         Nabi Sulaiman sebaik-baiknya hamba
 
30. Dan Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik- baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya),  (Qs 38 Shaad 30)

Dalam Alkitab, Nabi Lot (luth) menghamili kedua anak gadisnya sendiri
Marilah kita baca Kejadian 19 : 30 – 36 berikut ini :
“Pergilah Lot dari Zoar dan ia menetap bersama-sama dengan kedua anaknya perempuan di pegunungan, sebab ia tidak berani tinggal di Zoar, maka diamlah ia dalam suatu goa beserta kedua anaknya.”
“Kata kakaknya kepada adiknya : “Ayah kita telah tua, dan tidak ada laki-laki di negeri ini yang dapat menghampiri kita, seperti kebiasaan seluruh bumi. Marilah kita beri ayah kita minum anggur, lalu kita tidur dengan dua, supaya kitan menyambung keturunan dari ayah kita.”
“Pada malam itu mereka memberi ayah mereka minum anggur, lau mausklah yang lebih tua untuk tidur dengan ayahnya, dan ayahnya itu tidak mengetahui ketika anaknya itu tidur dan ketika ia bangun.”
“Keesokan harinya berkatalah kakaknya kepada adiknya : ”Tadi malam aku telah tidurh dengan ayah, baiklah malam ini juga kita beri dia minum anggur, masuklah engkau untuk tidur dengan dua, supaya kita menyambung keturunan dari ayah kita.”
“Demikianlah juga pada malam itu mereka memberi ayah merekma minum anggur, lalu bangunlah yang lebih muda untuk tidur dengan ayahnya, dan ayahnya itu tidak mengetahui ketika anaknya itu tidur dan ketika ia bangun.”
“Lalu mengandunglah kedua anak Lot itu dari ayah mereka.”
Dari konteks cerita dalam Alkitab tersebut, sangat sulit dibayangkan, bagaimana bejatnya Nabi Lot bersama kedua anak gadisnya. Dan bagaimana bejatnya kedua anak Nabi Lot terhadap ayah mereka sendiri. Apakah mungkin anak seorang nabi berani melakukan hal-hal yang sangat tidak terpuji pada ayah mereka sendiri? Apakah seorang seperti nabi Lot tidak mendidik anak-anaknya untuk berakhlakmulia? Kita lihat lagi bagaimana Nabi Lot dalam kisah lain di dalam Alkitab / Bible sebagai berikut :
Nabi Lot rela dua anak gadisnya diperlakukan seenaknya
Silahkan kita baca Kejadian 19 : 6 – 8 sebagai berikut :
“Lalu keluarlah Lot menemui mereka, ke depan pintu, tetapi pintu ditutupnyah di belakangnya, dan ia berkata : “Saudara-saudaraku, janganlah kiranya berbuat jahat. Kamu tahu, aku mempunyai dua orang anak perempuan yang belum pernah dijamah laki-laki, baiklah mereka kubawa keluar kepadamu, perbuatlah kepada mereka seperti yang kamu pandang baik, hanya jangan kamu apa-apakan orang-orang ini, sebab mereka memang datang untuk berlindung di dalam rumahku.”
Sungguh tragis sekali apa yang Nabi Lot lakukan terhadap kedua anak gadisnya. Hanya karena ingin membela tamunya, dan karena dia takut ancaman orang-orang di sekitarnya, dia rela kedua anak gadisnya diperlakukan semaunya oleh mereka. Padahal mestinya seorang ayah harus melinsungi dan mejaga kehormatan anak gadisnyah, tapi anehnya justru Nabi Lot tidak melakukannya.
Seorang ayah yang paling kejam di dunia, tidak akan pernah rela menyerahkan anak gadisnya begitu saja untuk diperlakukan seenaknya oleh segerombolan laki-laki, apalagi oleh seorang nabi seperti Nabi Lot.
Sekarang marilah kita lihat, dan bandingkan, bagaimana nabi Lot (Luth) dalam Al Qur’an.

Kisah Nabi Lot (Luth) dalam Al Qur’an
 
54. Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya: "Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah itu sedang kamu memperlihatkan(nya)?" 55. "Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu (mu), bukan (mendatangi) wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu)." (Qs 27 An Naml 54 – 55)
Kalau Alkitab menceritakan bahwa Nabi Lot (Luth) berakhlak bejat, sebaliknyah justru Al Qur’an menceritakan Nabi Luth menasehati kaumnya agar tidak berbuat jahil dan tidak melalukan sodomi sesama lelaki. Bahkan dalam ayat lain nabi Luth adalah orang yang sholeh, sebagaimana ayat berikut ini :
 
74. dan kepada Luth, Kami telah berikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami selamatkan dia dari (azab yang telah menimpa penduduk) kota yang mengerjakan perbuatan keji[965]. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik, 75. dan Kami masukkan dia ke dalam rahmat Kami; karena sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang saleh.  (Qs 21 : 74 – 75)

Setelah kita mengetahui kisah Nabi Lot (Luth) dalam Alkitabdan AL Qur’an, sekarang marilah kita baca bagaimana kisah Nabi Daud dalam Alkitab.
Sebelumnya perlu kita ketahui bahwah Nabi Daud sebagaimana tertulis di dalam Kitab Perjanjian Baru, merupakan bapa leluhur Yesus dalamsilsilah keturunan Yesus (Mat 1 : 1 – 16). Coba kita simak bagaimana akhlak nabi Daud di dalam Alkitab sebagai berikut :

Nabi Daud menghamili wanita bersuami
Mari kita membaca Alkitab 2Samuel 11 : 2 – 5 di bawah ini :
2. Sekali peristiwa pada waktu petang, ketika Daud bangun dari tempat pembaringannya, lalu berjalan-jalan di atas sotoh istana, tampak kepadanya dari atas sotoh itu seorang perempuan sedang mandi, perempuan itu sangat elok rupanya. 3. Lalu Daud menyuruh orang bertanya tentang perempuan itu dan orang berkata : “Itu adalah Batsyeba binti Eliam, isterei Uria orang Het itu.” 4. Sesudah itu Daud menyuruh oranb mengambil dia.perempuan itu datang kepadanya, lalu Daud tidur dengan dia. Perempuan itu baru selesai membersihkan diri dari kenajisannya. Kemudian pulanglah perempuan itu ke rumahnya. 5. Lalu mengandunglah perempuan itu dann disuruhnya orang memberitahukan kepada Daud, demikian : “Aku mengandung.”
Sulit dibayangkan betapa bejatnya akhlak Nabi Daud yang dilukiskan dalam Alkitab. Setelah istri bawahannya dia hamili, bagaimana caranya agar suami wanita yang dia hamili itu mati. Lalu dengan liciknya, dia adalakan skenario pembunuhan berencana sebagai berikut :
Daud mengadakan pembunuhan rencana
14. Paginya Daud menulis surat kepada Yoab dan mengirimkannya dengan perantaraan Uria. 15. Ditulisnya dalam surat itu, demikian : 16. Pada waktu “Tempatkanlah Uria di barisan depan dalam pertempuran yang paling hebat, kemudian kamu mengundurkan diri dari padanya supaya ia terbunuh mati.”
“Yoab mengepung kota Raba, ia menyuruh Uria pergi ke tempat yang diketahuinya ada lawan yang gagah  perkasa. 17. Ketika orang-orang kota itu keluar menyerang dan berperang melawan Yoab, maka gugurlah beberapa orang dari tentara,d ari anak buah Daud, juga Uria, orang Het itu, mati.”
Sungguh luar biasa kebejatan Nabi Daud di dalam Alkitab tersebut, sudah istri bawahannya dihamili, diadakan lagi pembunuhan berencana terhadap suami wanita tersebut. Dan yang membawa surat rencana pembunuhan tersebut, yaitu Uria suami wanita yang dihamilinya. Mungkin kalau suaminya tahu isi surat itu, barangkali tidak disampaikannya.
Skenario Daud yang mengatur pembunuhan berencana tersebut benar-benar berhasil.
Setelah orang-orang kota mengepung dan menyerang pasukan anak buah Daud, Yoab menyuruh Uria (suami Batyseba, wanita yang Daud hamili) maju ke medan perang yang dia ketahui banyak lawan yang gagah perkasa sebagaimana yang diperintahkan Daud  dalam suratnya kepada Yoab.
Rencana Daud berhasil! Uria, suami wanita yang Daud hamili itu gugur dalam pertempuran yang dahsyat tersebut. Maka jadila Batsyeba (istri Uria) yang telah mengandung bibit Daud menjadi istrinya.
Tak lama setelah peristiwa itu, maa lahirlah seorang anak laki-laki yang Nabi Daud  namakan Salomo (Sulaiman).
Berarti Salomo (Sulaiman) adalah anak haram hasil selingkuh atau perzinahan antara Daud dan Batsyeba (istri Uria) anak buah Daud sendiri.
Rasanya sangat naif seklai seorang nabi seperti Daud melakukan maksiat yang begitu hebat, dan anak yang dilahirkan dari hasil perzinahannya itu, koq menjadi seorang Nabi juga. Na’udzubillaahimindzaalik!!
Sekarang marilah kita buka kitab suci Al Qur’an lalu kita lihat dan bandingkan bagaimana AL Qur’an berbicara tentang kisah Nabi Daud, apakah sama sepereti yang dilukiskan dalam Alkitab / Bible atau tidak.

Nabi Daud dalam Al Qur’an
 
26. Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.  (Qs 39 Shaad 26)

Subhanallah, sungguh sangat menggugah ayat-ayat Al Qur’an tersebut. Al Qur’an sangat memuliakan Nabi Daud dengan menyebut beliau orang yang banyak kembali kepada Allah, dijadikan seorang khalifah, seorang pemimpin yang memberikan keputusan yang adil dan seorang Nabi yang tidak menuruti hawa nafsu. Sementara dalam Alkitab, dilukiskan Nabi Daud sebagai seorang yang sangat bejat, tidak bermoral, licik, menzinahi istri orang lain, mengumbar nafsu, mengadakan pembunuhan berencana dan lain-lain.pertanyaannya, manakah yang lebih rasional, kisah yang dilukiskan Alkitab ataukah AL Qur’an? Daud yang salah ataukah Allah yang salah menjadikan Daud sebagai utusanNya?



[793]. Ayat ini memberikan jaminan tentang kesucian dan kemurnian Al Quran selama-lamanya.
[1092]. Maksudnya Nabi Sulaiman menggantikan kenabian dan kerajaan nabi Daud a.s. serta mewarisi ilmu pengetahuannya dan kitab Zabur yang diturunkan kepadanya.
[965]. Maksudnya: homoseksual, menyamun serta mengerjakan perbuatan tersebut dengan berterang-terangan. 

12. TIDAK MEMBEBERKAN CARA MERAYU WANITA & PORNOGRAFI
 
Cermatilah catatan cinta Salomo yang tertulis dalam Alkitab berikut ini :
“Kiranya ia mencium aku dengan kecupan! Karena cintamu lebih nikmat dari pada anggur, harum bau minyakmu, bagaikan minyak yang tercurah namamu, oleh sebab itu gadis-gadis cinta kepadamu!” (Kidung Agung 1 : 1 – 3)
“Aku tidur, tetapi hatiku bangun. Dengarlah, kekasihku mengetuk. “Bukalah pintu, dinda, manisku, merpatiku, idam-idamanku, karena kepalaku penuh embun, dan rambutku penuh tetesan embun malam!” “Bajuku telah kutanggalkan, apakah aku akan mengenakannya lagi? Kakiku telah kubasuh, apakah aku akan mengotorkannyah pula?” (Kidung Agung 5 : 2 – 3)
Baca pula Kidung Agung 7 : 1 – 8 seperti berikut ini:

(1). Betapa indah langkah-langkahmu engan sandal-sandal itu, puteri yang berwatak luhur! Lengkung pinggangmu bagaikan perhiasan, karya tangan seniman.
(2). Pusarmu seperti cawan yang bulat, yang tak kekurangan anggur campur. Perutmu timbunan gandum, berpasgarh bunga-bunga bakung.
(3). Seperti dua anak rusah buah dadamu, sepertiu anak kembar kijang.
(4). Lehermu bagaikan menara gading, matamu bagaikan  telaga di Hesybon, dekat pintu gerbang Batrabim, hidungmu seperti menara digunung Libanon, yang menghadap ke kota Damsyik.
(5). Kepalamu seperti bukit Karmel, rambut kepalamu merah lembayung, seorangn raja tertawan dalam kepang-kepangnya.
(6). Betapa cantik, betapa jelita engkau, hai tercipta di antara segala yang disenangi.
(7). Sosok tubuhmu seumpama pohon korma dan buah dadamu gugusannya.
(8). Kataku : “Aku ingin memanjat pohon korma itu dan memegang gugusan-gugusannya. Kiranya buah dadamu seperti gugusan anggur dan nafas hidungmu seperti buah apel.

Kalau kita perhatikan, semua tulisan Nabi Salomo (Sulaiman) dalam Alkitab, semua isinya bagaikan cerita-cerita novel yang intinya berbicara tentang bagaimana merayu wanita.
Sungguh sangat tidak pantas jika ada kitab suci yang salah satu kitabnya  semuanya berisi pujian, sanjungan dan rayuan-rayuan kepada kaum wanita.
Pernah dalam suatu dialog yang diadakan di rumah kami dengan para misionaris Kristen dari Amerika dan Belanda, ketika kami menanyakan tentang tulisan Nabi Salomo yaitu Kidung-Kidung Salomo, mereka berdua mengatakan dengan jujur dan polos bahwa tulisan Nabi Salomo yang ada dalam Alkitab tersebut, bukan yang diwahyukanh Allah! Nah kalau begitu ini membuktikan bahwa Alkitab (Bible) tidak semuanya berisi firman Allah.
Sekarang coba kita baca dan simak ayat-ayat aLkitab tulisan Yehezkiel berikut ini,apakah menganung porngrafi atau tidak.
Baca pula Alkitab Yehezkiel 16 : 7 – 8 :
“Engkau menjadi besar dan sudah cukup umur, bahkan sudah sampai pada masa mudamu. Maka buah dadamu sudah montok, rambutmu sudah tumbuh, tetapi engkau dalam keadaan telanjang bugil. Maka Aku lalu dari situ dan Aku melihat engkau, sungguh, engkau sudah sampai pada masa cinta birahi. Aku menghamparkan kain Ku kepadamu dan menutupi auratmu. Dengan sumpah Aku mengadakan perjanjian dengan engkau, demikianlah firma Tuhan Allah, dan dengan itu engkau Aku punya.”
Baca lagi Alkitab Yehezkiel 23 : 1 – 5 :
(1). Datanglah firman Tuhan kepadaku :
(2). “Hai anak manusia, ada dua orang perempuan, anak dari satu ibu.
(3). Mereka bersundal di Mesir, mereka bersundal pada masa mudanya, di sana susunya dijamah-jamah dan dada keperawanannya dipegang-pegang.
(4). Nama yang tertuah ialah Ohola dan nama adiknya ialah Oholiba. Mereka Aku punya dan mereka melahirkan anak-anak lelakih dan perempuan. Mengenai nama-nama mereka, Ohola ialah Samaria dan Oholiba ialah Yerusalem.
(5). Zdan Ohola berzinah, sedang ia Aku punya. Ia sangat berahi kepada kekasih-kekasihnya, kepada ornag Asyur, pahlawan-pahlawan perang.

Teruskan untuk membaca Alkitab Yehezkiel 23 : 18 – 20 berikut ini :
“Oleh karena ia melakukan persudnalannya dengan terang-terangan dan memperlihatkan sendiri auratnya, maka Aku menjauhkan diri karena jijik dari padanya, seperti Aku menjauhkan diri dari adiknya. Ia melakukan lebih banyak lagi persundalannyah sambil teringat kepada masa mudanya, waktu ia bersundal di tanah Mesir ia berahi kepada kawan-kawannya bersundal, yang auratnyah seperti aurat keledai dan zakarnya seperti zakar kuda.”
Sebenarnya ayat-ayat porno di dalam kitab Yehezkiel, masih cukup banyak, tapi dengan beberapa ayat tersebut, sudah lebih dari cukup membuktikan bahwa Altab benar-benar banyak berisi ayat-ayat porno yang vulgar. Pernah dalam suatu perdebatan dengan beberapa pendeta di Jakarta, ketik akami tanyakan tentang ayat-ayat porno, salah seorang Pendeta menjawab : “Itulah kejujuran pada penulis Alkitab. Mereka berani ungkapkan apa adanya tanpa menutup-nutupi, sehingga orangn bisa bedakan mana buah duku, mana buag manggis, buah rambutan dan mana buah dada.”
Betap konyolnya jawaban sang Pendeta tersebut. Tentu saja jawaban sang Pendeta yang asbun (asal bunyi) tanpa berdalil dan ngawur tersebut,disambut gelak tawa para hadirin. Nah kalau sang Pendeta saja pengetahuannya tentang Alkitab (Bible) seperti itu, bisa dibayangkan sejauh mana pemahaman para jemaat yang dia gembalakan.

Tuhan menyuruh Nabi Hosen kawin dengan pezinah
Bacalah Alkitab Hosea 1 : 2 yang berbunyi :
“Ketika Tuhan mulai berbicara dengan perantaraan Hosea, berfirmanlah Ia kepada Hosea : “Pergilah, kawinilah seorang perempuan sundal dan peranakkanlah anak-anak sundal, karena negeri ini bersundal hebat dengan membelakangi Tuhan.”
Tuhan yang benar mestinya menyuruh nabiNya kawin dengan wanita baik-baik agar memperoleh keturunan yang baik pula. Aneh rasanya jika Tuhan menyuruh Nabi Nya kawin dengan perempuan sundal agar memperoleh anak keturunan sundal. Itulah Tuhan dalam Bible!!!
Al Qur’an sangat melarang berbuat sundal atau berzina
 
32. Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (Qs 17 Al Isra’ 32)

Tuhan (Allah) di dalam Al Qur’an justru melarang, bahkan mendekati zina saja dilarang Allah, apalagi melakukannya. Allah menasehati dan menyuruh menjauhi perbuatan keji dan buruk, bukan sebaliknya menyuruh. Kalau Tuhan dalam Alkitab menyuruh Nabi Hosea kawin dengan pesudnal dan memperanakkan anak-anak sundal, bagaimana mungkin Tuhan akan menghukum para pesundal, sementara Dia sendiri yang menyuruh melakukannya.

13. HARUS ADA PERNYATAAN DARI ALLAH BAHWA TIDAK ADA TUHAN YANG WAJIB DISEMBAH SELAIN DIRI-NYA
 
Salah satu syarat kitab itu dikatakan “Kitab Suci” bila ada pernyataan dari Allah bahwa tidak ada Tuhan yang wajib disembah kecuali diri-nya sendiri.satu-satunya kitab suci yang tertulis jelas pernyataan dari Allah bahwa menyembah itu hanya kepada diri-Nya, bukan kepada yang lainnya. Perhatikan ayat Al Qur’an sebagai berikut :
 



25. Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku."  
(Qs 21 Al Nabiya’ 25)
 
14. Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.  
(Qs 20 Thaha 14)

Kedua ayat Al Qur’an tersebut merupakan bukti pernyataan Allah sendiri bahwa menyembah itu hanya kepada diriNya saja. Tetapi di dalam Injil, Yesus yang dijadikan sesembahan. Perhatikan ayat Injil sebagai berikut :
“Tiba-tiba Yesus berjumpa dengan mereka dan berkata : “Salam bagimu.” Mereka mendekatinya dan memeluk kakiNya (Yesus) serta menyembahnya.” (Matius 28 : 9)
“Ketika ia melihat Yesus dari jauh, berlarilah ia mendapatkannya lalu menyembahnya.” (Markus 5 : 6)
“Katanya : “Aku percaya, Tuhan!” (Yesus) Lalu ia sjud menyembahnya.” (Yohanes 9 : 38)
Padahal seumur hidupnya Yesus tidak pernah menyuruh pengikutnya untukh menjadikan dirinya sebagai Tuhan yang disembah. Yesus justru menyuruh menyembah hanya kepada Allah yang dia sembah, sebagaimana ucapan Yesus sebagai berikut :
“Maka berkatalah Yesus kepadanya : “Enyahlah , Iblis! Sebab ada tertulis “ Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” (Matius 4 : 10)
Ucapan Yesus dalam Injil Matius 4 : 10 tersebut sesuai dengan pernyataan nabi Isa (Yesus) dalam Qs 43 Az Zuhruf 64 sebagai berikut :
 
64. Sesungguhnya Allah Dialah Tuhanku dan Tuhan kamu maka sembahlah Dia, ini adalah jalan yang lurus.




14. HARUS ADA NAMA AGAMA YG BERASAL DARI TUHANNYA, BUKAN DARI MANUSIA
 

19. Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. (Qs 3 Ali Imran 19)

85. Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (Qs 3 Ali Imran 85)
 

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku  cukupkan kepada kamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagi kamu.” (Qs 5 Al Maidah )

Kristen Adalah Nama Agam Buatan Manusia
Dalam Kisah Rasul 11 : 24 – 26 disebutkan sebagai berikut :
24. Karena Barnabas adalah roang baik, penuh dengan Roh kudus dan iman. Sejumlah orang dibawa kepada Tuhan. 25. Lalu pergilah Barnabas ke Tarsus untuk mencari Saulus (Paulus) dan setelah bertemu dengan dia, ia membawanya ke Antiokhia. 26. Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen.”

14. TERJAGANYA SELURUH WAHYU ITU DENGAN HAFALAN PARA PEMELUKNYA DARI AWAL DIWAHYUKAN SAMPAI KIAMAT.
 
Dalam Al Qur’an telah menjamin keaslian firmanNya yang diwahyukan kepada nabi Muhammad saw. dan Dia pun memelihara keasliannya sampai kapanpun. Sebagaimana firmanNya :
 
9. Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya (Qs 15 Al Hijr 9)

Firman Allahh tersebut diakui oleh  dunia, sebab kenyataannya Al Qur’anh itu benar-benarh dihapal oleh jutaan orang du dunia. Bahkan anak kecil pun banyak yang hapal LA Qur’an. Ini merupakan suatu bukti yang tak terbantahkan oleh umat beragama lainnya, sebab tidak ada satu kitab suci dari agama lainnya di dunia ini yang benar-benar dihapal di luar kepala oleh pemeluknya selain kitab suci Al Qur’an. Oleh sebab itu Al Qur’an adalah mu’jizat Rasulullah SAW yang tak terbantahkan.
Bagaimana dengan Alkitab? Ternyata tidak ada satu pun orang di dunia ini yang hapal Alkitab di luar kepala. Bahkan Paus yang ada di Roma mustahil hapal Seluruh Alkitab tersebut. Kenapa Alkitab tidak mungkin bisa dihapal seluruhnya? Jawabannya karena Alkitab tidak murni lagi sebagai firman Allah, tapi sudah bercampur dengan tulisan manusia biasa. Dan di dalam Alkitab tidak ditemukan ayat pun dimana Allah menyatakan bahwah Alktab tersebut dia yang menurunkan atau yang mewahyukan dan Dia yang menjaganya.

Dari 15 point yang menjaadi syarat sebuah kitab dikatakan suci, ternyata tidak ada satupun yang memenuhi syarat terhadap Alkitab (Bible). Pada dasarnya ayat-ayat yang memenuhi syarat dalam Alkitab (Bible), memang ada, tapi tidak kami muat. Sebab dalam buku ini bukan membahas yang benar atau yang memenuhi syarat. Sengaja dimuat ayat-ayat Alkitab (Bible) yang tidak memenuhi syarat, sebab dengan bercampurnya ayat-ayat yang tidak memenuhi syarat tersebut ke dalam Alkitab, membuat kitab itu tidak suci lagi, karena bercampur antara yang haq dan yang bathil. Bercampurnya antara yang haq dan yang bathil dalam Alkitab, sejak hampir 15 abad yang lalu telah diingatkan oleh Allah Swt. di dalam kitab suci Al Qur’an yaitu pada surat Al Baqarah 79 sebagai berikut :
 
79. Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan. (2)(Qs 2 Al Baqarah 79)

Informasi yang diberikan Al Qur’an tersbeut terbukti bahwa memang benar bahwa Alkitab (Bible) benar-benar telah dikotori oleh tangan-tangan jahil yang tidak bertanggung jawab. Oleh sebab itu mengimani Alkitab (Bible) sebagai 100% firman Tuuhan, adaah suatu kebodohan yang sangat merugikan manusia dalam memilih mana agama yang benar, mana agama yang sudah tidak benar. Makanya agar manusia bisa memperoleh keselamatan dunia dan akhirat, Allah Swt mengutus seorang Rasul terakhir (Muhammad) dengan membawa kitab suci yang sempurna (Qur’an) sebagai petunjuk kepada manusia, dan agama yang benar (Islam), sebagaimana firman Nya dalam surat 61 (Ash Shaff) 9 sebagai berikut :
 
9. Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci.  (Qs 61 ash Shaff 9)
Setelah diutusnya Nabi Muhammad saw. dengan membawa Al Qur’an dan agama Islam, maka Allah Swt memerintahkan kepada Muhamamd saw. untuk mengajak para Ahli Kitab (Yahudi dan Nashara) agar mereka masuk ke dalam agam Islam supaya mereka selamat, sebagaimana firman Nya dalam surat 3 ( Ali Imran ) ayat 20 sebagai berikut :
 
20. Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah: "Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku." Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi[190]: "Apakah kamu (mau) masuk Islam." Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.  (Qs 3 Ali Imran 20)
 
Ayat di atas ini sebenarnya merupakan perintah Allah kepada Nabi Muhammad untuk mengajak umat Kristen agar masuk Islam. Dan hal itu benar-benar beliau lakukan dalam dakwahnya selama beliau masih hidup. Untuk itu agar umat Kristiani tidak tersesat, maka Allah wahyukan kepada Rasulullah Muhammad untuk mengajak mereka kembali kepada kalimat Tauhid yaitu laa ilaaha illallaahu, jangan mempersekutukan Allah, jangan menjadikan tuhan-tuhan lain selain Allah, sebagaimana firmanNya dalam surat 3 (Ali Imran) ayat 64 sebagai berikut :
 
64. Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah." Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." (Qs 3 Al Baqarah 64)

Ayat di atas ini dimulai dn3gan kata “Qul” yang artinya “katakanlah”. Maksud dari kata “Qul” (katakanlah) yaitu Rasulullah saw. diperintahkan untuk katakan, sampaikan, ajak atau dakwahkan kepada Ahli Kitab.
Rasululllah Muhammad saw. adalah seorang yang amanah, ketika dia menerimawahyu Allah yang intinyah berupa perintah kepadanya “Qul” atau “katakanlah”, maka perintah tersebut benar-benar beliau lakukan, beliau sampaikan, beliau laksanakan, beliau dakwahkan. Sebagai contoh ketika Rasulullah saw. masih hidup, beliau berkirim surat kepada Heraclius yaitu seorang raja Romawi di Syam sebagai berikut :
“Bismilaahir Rahmaanir Rahiim”
“Dari Muhammad hamba Allah dan rasul Nya kepada Heraclius orang agung bangsa Romawi. Selamatrlah atas barang siapa yang sudi mengikuti kebenaran.”
“Maka dengan ini aku mengajak engkau dengan seruan Islam. Islamlah supaya kamu selamat, dan Allah akan memberikan pahalaNya atas engkau dua kali. Tetapi jika engkau berpaling, maka dosa seluruh penduduk Erisiyin tertanggung atas pundak engkau.”
“Katakanlah: "Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah".
Surat Rasulullah saw. ini membuktikan kepada kita bahwa setiap wahyu Nya yang dimulai dengan “Qul” yang artinya “Katakanlah”, benar-benar beliau katakan atau sampaikan. Sekarang beliau sudah tiada, sahabatnya sudah tiada, tabi’in dan generasi selanjutnya pun semuanya sudah tiada. Yang ada sekarang ini adalah kita-kita umat Muhammad. Ini berarti kitalah yang harus meneruskan risalah beliau. Kitalah yang meneruskan perintah Allah tersebut, kitalah pewaris semua yang Allah perintahkan kepada beliau.
Kalau begitu pertanyaannya; sudajkah kita mengatakan, menyampaikan, mendakwahkan serta mengajak mereka yang non muslim agar mau masuk Islam? Kalau belum, maka berarti ada suatu kewajiban yang mestinya kita tunaikan, kita lakukan, sebagai wujud kecintaan kita kepada Allah dan RasulNya.
Tetapi ada sebagian umat Islam dengan entengnya mengatakan “Lakum dinukum wa liyadiin.” (bagi kamu agama kamu dan bagiku agamaku). Mereka idak menyadari bahwa “lakum dinukum wa liya diin” berada pada ujung ayat, padahal awal surat tersebut dimulai dengan “Qul” yang artinya “katakanlah”. Ini bermakna bahwa hendaklah disampaikan dulu, didakwahkan dulu, diajak dulu mereka masuk Islam. Setelah kita berusaha sampaikan, lalu mereka tetap tidak mau, berarti kita telah menunaikan kewajiban kita. Setelah kita tunaikan kewajiban, kita berserah diri kepada Allah, sebab hanya Allah pemilik hidayah. Sebab jika Allah mengehndakinya, isnya Allah mereka masuk Islam.
Oleh sebab itu bagi orang – orang yang mengatakan “lakum dinukum wa liya diin” pada dasarnya ibarat belum perang sudah menyerah, belum berbuat sudah kalah duluan. Mudah-mudahan dengan hadirnya buku kecil ini, diharapkan khususnya kepada para da’i, atau aktifis Islam lainnya, amrilah berdakwah Islam pada mereka yang non muslim.kita ajak merea agar masuk Islam supaya mereka juga biusa merasakan nikmatnya Islam, bisa menyelamatkan mereka dunia akhirat. Dengan demikian insya Allah Islam ini benar-benar akan menjadi agama yang ‘rahmatan lil ‘aalamiin”
Bagaimana sikap kaum muslimin terhadap Ahli Kitab?
“Apabila ada Ahli Kitab (Yahudi dan Nashara) berbicara kepadamu, maka janganlah kamu benarkan semuanya dan kangan pula kamu dustakan semuanya. Tetapi katakanlah kami beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami, dan kami beriman kepada apa yang diturunkan sebelumnya. Apabila yang dikatakannya benar, maka janganlah kamu mendustakannya. Tetapi apabila yang dikatakannya itu bathil (bukan berasal dari Allah), maka janganlah kamu benarkan.” (HR Muslim,Abu Dawud dan Tirmidzi).
Hadits tersebut memberikan makna kepada kita kaum muslimin, bahwa Alkitab (Bible) sudah tidak murni lagi. Sudah bercampur antara yang haq dengan yang bathil. Oleh sebab itu apa saja yang disampaikan oleh Yahudi dan Nasrani, jika tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits, kita terima. Tetapi bila bertentangan, kita tolak.



(2). Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ayat ini
(S. 2: 79) turun tentang ahli kitab yang memalsukan Taurat.
(Diriwayatkan oleh an-Nasa'i yang bersumber dari Ibnu Abbas.)

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa turunnya ayat ini
(S. 2: 79) tentang padri-padri bangsa Yahudi yang mendapatkan sifat-sifat Nabi SAW tertulis dalam kitab Taurat yang berbunyi: Matanya seperti yang selalu memakai cela, tingginya sedang, rambutnya kriting, mukanya cantik." Akan tetapi mereka hapus (kalimat tersebut dari Taurat) karena dengki dan benci serta menggantinya dengan kalimat: "Badannya tinggi, matanya biru, rambutnya lurus."
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Ikrimah yang bersumber dari Ibnu Abbas.)
 
[190]. Ummi artinya ialah orang yang tidak tahu tulis baca. Menurut sebagian ahli tafsir yang dimaksud dengan ummi ialah orang musyrik Arab yang tidak tahu tulis baca. Menurut sebagian yang lain ialah orang-orang yang tidak diberi Al Kitab.




Tidak ada komentar: