Senin, 11 Juni 2012

Ambisi Terselung Dibalik Pesan Damai

Masih ingat dengan isu kasus perkosaan yang – katanya – dilakukan oknum yang menyebut dirinya sebagai orang muslim pada etnis tertentu yang kebetulan beragama Kristen pada kerusuhan 1998

Atau masih ingatkah anda pada berita tentang “Pengrusakan Sejumlah Tempat Ibadah Umat Kristen” di sejumlah Gereja di Jawa Barat yang gencar diliput oleh media cetak ataupun media elektronik pada bulan Agustus 2005…?

Tulisan ini saya salin dari hasil laporan Rizki Ridyasmara yang ditulis dalam majalah Saksi No.3 VII 28 September 2005, untuk menjawab isu-isu yang tidak ada dasarnya (tanpa bukti – red) yang sering beredar di milis ini, berikut petikannya.

Kepala Badan Intelejen Negara (BIN) Syamsir Siregar amat kesal. Mengapa ada organisasi agama yang berani-beraninya memberi laporan bohong kepada Prisiden.. Pekan terakhir Agustus 2005, KWI dan PGI melaporkan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, ada puluhan[]/b] Gereja di Bandung dan sekitarnya ditutup dengan kekerasan yang dilakukan oleh sejumlah [b]ormas Islam. Berita ini secepat kilat menyebar, tidak saja di Indonesia tapi hingga ke mancanegara lewat berbagai milis.

BIN sebagai lembaga yang bertanggung jawab atas terpeliharanya stabilitas politik Negara, berinisiatif mengecek masalah yang sebenarnya terjadi. Sejumlah agen BIN langsung diterjunkan ke lapangan , beberapa aparat dan pejabat daerah terkait juga membantu untuk menguak berita ini. Hasilnya nihil

“Saya tegaskan, tidak ada yang namanya pengrusakan tempat ibadah sampai saat ini. Saya sudah cek, jadi jangan memberi laporan yang tidak ada buktinya” tandas Kepala BIN disela-sela rapat dengar pendapat dengan komisi III DPR di Senayan pada tanggal 31/8/2005.


Hal yang sama diungkap oleh Kapolri Jend.Pol. Sutatnto dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi III DPR di Senayan pada tanggal 5/9/2005. Ia menegaskan bahwa berita penutupan dan pengrusakan sejumlah Gereja di Jawa Barat adalah isapan jempol belaka.

“Berdasarkan laporan Polda Jawa Barat, tanggal 24 Agustus 2005, yang ditutup pada umumnya bukan Gereja, tapi tempat tinggal, ruko, atau gedung pertemuan yang dijadikan tempat ibadah” kata Kapolri. Dikatakannya penutupan ruko itu terjadi di 17 lokasi di Bandung, Karawang, Cimahi, dan Purwakarta.
Dengan adanya penjelasan Kapolri tersebut, Anggota Komisi III dari fraksi PAN Patrialis Akbar mengatakan, “Kini semua menjadi jelas, tidak ada masalah lagi, sehingga jika ada pihak-pihak yang terus melempar isu-isu miring tentang ini patut diwaspadai karena mereka jelas ingin [b]mengadu domba
antara umat Islam dan Kristen, kata Patrialis.

Isu penutupan dan pengrusakan sejumlah rumah ibadah sejak pecan kedua Agustus 2005 santer ditiupkan oleh kalangan tertentu. Ini bersamaan dengan aksi damai penuh musyawarah yang dilakukan oleh AGADP (Aliansi Gerakan Anti Pemurtadan) yang bekerja sama dengan Muspika dan Kepolisian setempat funa mengembalikan fungsi ruko sebagaiu rumah took, bukan sebagai “rudah” (rumah ibadah). Upaya inilah yang oleh kalangan Kristen dan Katolik diplintir sebagai aksi penutupan dan pengrusakan Gereja.

Pada 23 Agustus 2005, Ketua Umu PGI Pdt. Adndreas A. Yewangi menghadap Presiden SBY dan melaporkan tentang adanya penutupan terhadap 23 gereja di Jawa Barat, diantaranya di Bandung, Garut dan Purwakarta, sejak September 2004 hingga Agustus 2005. Usai menghadap SBY, pada 31 Agustus 2005 sejumlah tokoh gereja juga mendatangi ketua DPR Agung Laksono dengan misi yang sama.
Sabtu siang tanggal 3 September 2005 setelah sebelumnya sejumlah tokoh Kristen dan Katolik menyambangi kediaman Ketua Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq untuk berdialog, ribuan umat Kristiani bersatu memenuhi bundaran HI dan jalan Thamrin, Jakarta, guna melakukan demo menuntut dicabutnya SKB Dua Menteri Nomor 1/1969 dan menyerukan pemerintah untuk menindak tegas pelaku aksi kekerasan terhadap kegiatan keagamaan.
Aksi ini juga dihadiri oleh Abdurrahman Wahid yang saat itu didampingi oleh mantan ketua partai Golkar Akbar Tanjung. Walau mengaku aksi damai, dalam terminologi politis, aksi tersebut tetap saja bermakna aksi unjuk kekuatan. Mereka seolah ingin mengatakan, ”Kami bersatu menuntut pencabutan SKB !!”.

Unjuk kekuatan ternyata tidak hanya terjadi di bundaran HI. Di media elektronik seperti SMS (short message service)dan milis internet, show of forcenya malah lebih seram dan amat provokatif. Jika di bundaran HI mereka teriak Damai !!! tapi di media elektronik mereka dengan tegas sudah menggali kapak peperangan. Inikah wajah aslinya. Wah saya jadi ingat Matius 10-34 yaitu ”Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku dating bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku dating untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya

Yang meyedihkan juga adalah Pusat Data Analisis Tempo (PDAT), yang selama ini informasinya dianggap akurat, toh kecolongan juga dengan memuat daftar Perusakan dan Penutupan Gereja di Indonesia (beberapa kasus antara 1996 – 2005) yang dirangkum oleh Sisilia Pudjiastuti dari berbagai sumber. Tanpa cek dan recek, PDAT memuat “14 Agustus 2005, pukul 09.45 WIB, gereja-gereja yang berada di Komplek Permata Cimahi, Kel. Tani Mulya, Kec. Ngamprah Kab. Bandung diserang dan ditutup, yaitu : Gereja Anglikan, Gereja Sidang Pantekosta, Gereja Pnatekosta di Indonesia, GKI Anugrah, dan Gereja Bethel Injil Sepenuh.

Padahal baik Kapolda, Kapolri maupun Kepala BIN yang telah menerjunkan petugas-petugas terbaiknya langsung ke lapangan dan sama sekali tidak menemukan hal itu.

Hal ini mengingatkan kita semua pada kebohongan ruarrr biasa yang dilakukan oleh Tim Relawan Kemanusiaan pimpinan Romo Swandayan SJ yang menyebarkan isu terjadinya perkosaan massal terhadap perempuan keturunan Cina di berbagai kota besar di seluruh Indonesia saat terjadi kerusuhan Mei 1998

Ingat dalam perkosaan massal, mestinya terdapat bunyaakkk korbann kan, tapi sampai saat ini, tak satupun bukti-bukti ditemukan !!!!. Padahal akibat kampanye kotor tim relawan pimpinan oleh sang Romo tersebut, merah putih di sejumlah kedutaan besar Indonesia di luar negeri, seperti Hongkong, suddah diinjak, dirobek, dan dibakar oleh para pendemo. Sayangnya para pemfitnah dan penyebar berita bohong tersebut tidak diseret ke muka pengadilan dan masih bebas berkeliaran…!!!!!


Sekarang isu pengrusakan dan penyerangan sejumlah gereja juga disebar luaskan dengan satu tuntutan berupa pencabutan SKB nomor 1/1969, sesuatu yang sudah diteriakkan oleh kalangan Nasarani sejak 36 tahun yang lalu. Padahal jelas berita itu tidak berdasar sama sekali. Denga sendirinya, banyak kalangan menduga-duga adakah agenda tersembunyi dari kelompok tertentu di balik pesan damai yang sering mereka kampanyekan.

Tidak ada komentar: